Menteri Erick Thohir saat SEA Ministerial Meeting on Youth and Sports di The Meru, Sanur. (BP/Kemenpora)

JAKARTA, BALIPOST.com – Southeast Asia Ministerial Meeting on Youth and Sports (SEAMMYS) 2026 yang diselenggarakan di The Meru, Sanur menjadi salah satu langkah paling terstruktur yang pernah dilakukan Indonesia dalam membangun kerja sama kawasan melalui sektor pemuda dan olahraga.

Hasil paling konkret dari pertemuan tersebut adalah lahirnya Deklarasi Bali yang disepakati seluruh delegasi negara peserta.

Dikutip dari Kantor Berita Antara, deklarasi itu memuat enam poin utama yang mencakup penguatan kerja sama olahraga regional, pengembangan sistem olahraga prestasi tinggi, peningkatan kolaborasi penyelenggaraan ajang internasional, penguatan partisipasi olahraga untuk kesehatan masyarakat dan integrasi sosial, pemberdayaan pemuda, serta pembangunan ketahanan generasi muda di era digital.

Dokumen Bali tersebut menempatkan olahraga dan kepemudaan sebagai isu strategis kawasan. Deklarasi Bali juga menjadi dasar pembentukan kerangka kerja regional yang lebih terarah dibanding pola kerja sama sebelumnya yang cenderung sporadis.

Dari sisi diplomasi, Indonesia memanfaatkan forum ini untuk memperkuat hubungan bilateral dengan sejumlah negara. Salah satu hasil yang cukup menonjol adalah penandatanganan nota kesepahaman antara Indonesia dan Singapura dalam bidang kepemudaan dan olahraga.

Baca juga:  Ini 4 Poin Penting KTT Spesial Asean-Australia

Kerja sama tersebut mencakup pemberdayaan pemuda, kewirausahaan, kepemimpinan, penguatan organisasi kepemudaan, pengembangan ekosistem digital yang aman, hingga kolaborasi sport science dan teknologi olahraga.

Kerja sama dengan Singapura menempatkan isu kepemudaan pada konteks tantangan era digital dan kecerdasan artifisial. Fokus pembahasan berubah dari aktivitas kepemudaan konvensional menuju kesiapan generasi muda menghadapi perubahan teknologi.

Selain Singapura, Indonesia juga memperkuat hubungan olahraga dengan Timor Leste dan Brunei Darussalam melalui pencak silat. Kepada Timor Leste, Indonesia menawarkan dukungan pembinaan dan penguatan ekosistem olahraga, termasuk kepelatihan dan perwasitan pencak silat.

Sementara dalam pertemuan dengan Brunei Darussalam, pembahasan berkembang pada peluang pengembangan pelatih, penyelenggaraan kejuaraan, hingga kemungkinan kolaborasi menjadi tuan rumah ajang pencak silat.

Pencak silat menjadi salah satu instrumen diplomasi budaya yang cukup menonjol dalam rangkaian SEAMMYS 2026. Indonesia, yang sedang berjuang membawa olahraga asli tanah air itu ke level Olimpiade, menggunakan pencak silat sebagai medium penguatan hubungan antarnegara sekaligus memperluas pengaruh budaya Indonesia di kawasan.

Baca juga:  ASEAN Regional Workshop, Tekan Kerugian Pascapanen dengan Meningkatkan Produktivitas, Aksesbilitas dan Memanfaatkan Teknologi Pertanian

Diplomasi olahraga yang dibangun Indonesia melalui pencak silat tersebut tidak hanya berorientasi pada prestasi kompetisi. Indonesia sedang berupaya menyebarkan identitas budaya dan penguatan hubungan sosial antarnegara melalui salah satu cabang olahraga bela diri.

Di sisi lain, forum SEAMMYS juga menjadi bagian dari upaya Indonesia membangun posisi kepemimpinan regional dalam isu olahraga dan kepemudaan. Selama ini ASEAN lebih banyak dikenal melalui kerja sama ekonomi, perdagangan, dan politik. Sektor olahraga dan pemuda belum terlalu menonjol sebagai agenda strategis kawasan.

Melalui SEAMMYS, Indonesia membuka ruang baru bahwa kerja sama regional dapat diperluas lewat pembangunan sistem olahraga dan penguatan generasi muda. Pendekatan ini berimplikasi pada tantangan kawasan Asia Tenggara yang sedang menghadapi kompetisi global yang semakin ketat, baik dalam bidang ekonomi maupun kualitas sumber daya manusia.

Kesepakatan untuk menjadikan SEAMMYS sebagai agenda rutin dua tahunan menandakan bahwa forum ini diarahkan menjadi mekanisme kerja sama jangka panjang. Filipina bahkan langsung menyatakan minat menjadi tuan rumah berikutnya.

Baca juga:  BTN Termasuk 50 Perusahaan Terbaik di Asean

Keputusan tersebut menjadi indikasi penerimaan kawasan terhadap gagasan yang dibawa Indonesia. Dalam konteks diplomasi regional, keberhasilan membangun forum permanen menjadi capaian penting karena inisiatif Indonesia diterima sebagai kebutuhan bersama.

SEAMMYS 2026 menandai perubahan orientasi kerja sama olahraga Asia Tenggara. Pembahasan tidak lagi terbatas pada agenda pertandingan dan perebutan medali, tetapi berkembang pada isu pembinaan atlet, tata kelola olahraga, ekonomi olahraga, ketahanan generasi muda, teknologi digital, hingga diplomasi budaya.

Bagi Indonesia, forum ini juga menjadi instrumen untuk memperkuat posisi sebagai penggerak agenda regional di luar isu ekonomi dan politik. Melalui olahraga dan kepemudaan, Indonesia mencoba membangun ruang kolaborasi baru yang lebih dekat dengan dinamika sosial masyarakat Asia Tenggara.

Pertemuan tingkat menteri yang digelar pada 3-5 Mei itu memperlihatkan arah baru diplomasi regional yang mulai menempatkan olahraga dan pengembangan generasi muda sebagai bagian dari strategi pembangunan kawasan, bukan pembahasan yang sekadar kompetisi melulu. (Suka Adnyana/balipost)

BAGIKAN