
TERNATE, BALIPOST.com – Dua warga negara Singapura meninggal akibat erupsi Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Jumat (8/5).
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Ternate, Iwan Ramdani, mengatakan operasi pencarian dan pertolongan dilakukan setelah Basarnas Command Center (BCC) menerima sinyal darurat atau SOS dari perangkat Garmin pada pukul 08.55 WIT di titik koordinat 1°42’13.7″N 127°52’50.2″E.
“Sinyal tersebut kemudian dikonfirmasi oleh Kepala Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, yang melaporkan adanya pendaki terdampak erupsi Gunung Dukono dan meminta bantuan evakuasi,” kata Iwan dikutip dari Kantor Berita Antara.
Ia menjelaskan, setelah menerima laporan darurat, Tim Rescue Pos SAR Tobelo bersama unsur potensi SAR langsung diberangkatkan menuju lokasi kejadian.
“Merespon laporan tersebut, pada pukul 09.56 WIT Tim Rescue Pos SAR Tobelo bersama unsur potensi SAR bergerak menuju Posko Pengamatan Gunung Dukono untuk melaksanakan koordinasi dan persiapan evakuasi,” ujarnya.
Personel yang diterjunkan terdiri atas empat anggota Basarnas, tujuh personel Polres Halut, tiga anggota BPBD, tiga personel TNI, dan sekitar 20 warga yang membantu proses pencarian dan evakuasi.
Setibanya di Posko Pengamatan Gunung Dukono, tim SAR gabungan berkoordinasi dengan Polres Halmahera Utara dan BPBD Halmahera Utara terkait kondisi terkini di lokasi erupsi.
Berdasarkan data sementara dari korban selamat, total pendaki yang berada di kawasan Gunung Dukono berjumlah 20 orang. Sebanyak 15 pendaki telah berhasil dievakuasi ke lokasi aman.
Sementara itu, lima orang lainnya masih berada di area puncak, dengan rincian dua orang dilaporkan meninggal dunia, satu orang dinyatakan hilang, dan dua orang lainnya masih bertahan di kawasan atas gunung untuk mencari korban hilang tersebut.
Dua korban meninggal dunia diketahui merupakan warga negara asing asal Singapura bernama Timo dan Sahnas. Namun, informasi itu masih menunggu verifikasi langsung dari tim SAR di lapangan.
“Hingga saat ini Tim SAR Gabungan masih terus berupaya menuju lokasi untuk melakukan evakuasi korban dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik Gunung Dukono,” kata Iwan.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang dihimpun dari keterangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terjadi pada pukul 07.41 WIT.
Gunung Dukono yang saat ini berstatus Level II (Waspada) mengalami peningkatan aktivitas visual dan kegempaan sejak 29 Maret 2026, dengan rata-rata tercatat sebanyak 95 kejadian erupsi.
Hasil pengamatan menunjukkan kolom erupsi berwarna putih, kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan tinggi mencapai sekitar 10.000 meter atau 10 kilometer. Erupsi juga disertai dentuman lemah hingga kuat. Aktivitas kegempaan terekam pada sismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dan durasi 967,56 detik.
Dampak erupsi terpantau di wilayah Kecamatan Galela, tepatnya di Desa Mamunya. Hingga saat ini BPBD Kabupaten Halmahera Utara bersama BPBD Provinsi Maluku Utara dan unsur terkait masih melakukan pendataan lanjutan terhadap kondisi masyarakat maupun pendaki di sekitar kawasan terdampak.
Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Kabupaten Halmahera Utara telah mendirikan Posko Tanggap Darurat Bencana Terpadu dan berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Pos Pantau Gunung Dukono, potensi SAR, tenaga medis, TNI/Polri serta masyarakat setempat.
Pada Jumat (8/5) menjelang siang, tim SAR gabungan juga terus melaksanakan penyisiran di kawasan Gunung Dukono guna mengevakuasi sejumlah pendaki yang mengalami situasi darurat akibat peningkatan aktivitas vulkanik. (kmb/balipost)






