Kesiapan Brahma Vihara Arama Jadi Titik Awal Perjalanan Spiritual ke Borobudur. (BP/Yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Menjelang perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era yang akan dipusatkan di Candi Borobudur, Jawa Tengah, pada 30 Mei 2026 mendatang, Brahma Vihara Arama di Banjar Tegeha, Kecamatan Banjar, Buleleng, mulai melakukan berbagai persiapan.

Vihara terbesar di Bali Utara tersebut menjadi salah satu titik awal perjalanan spiritual para Bhikkhu menuju puncak perayaan Waisak nasional melalui kegiatan Indonesia Walk for Peace 2026.

Baca juga:  Disidak Pansus TRAP, KEK Kura-Kura Bali Klarifikasi Dugaan Ambil Lahan Tahura

Suasana persiapan mulai terlihat di kawasan vihara pada Kamis (7/5). Sejumlah pengurus vihara bersama umat Buddha tampak memasang umbul-umbul berwarna-warni dan membersihkan area pemujaan guna menyambut kedatangan para Bhikkhu dari Thailand dan Indonesia.

Rencananya, sebanyak 50 Bhikkhu asal Thailand dan enam Bhikkhu dari Indonesia dijadwalkan tiba di Brahma Vihara Arama pada Jumat (8/5). Kedatangan mereka merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Indonesia Walk for Peace 2026 yang digelar menyambut Hari Raya Waisak.

Baca juga:  Porjar, Kontingen Gianyar Incar Posisi Ketiga

Selain penyambutan para Bhikkhu, di kawasan vihara juga akan dilaksanakan puja bersama sekaligus peresmian Patung Buddha Parinibana. Kegiatan tersebut diperkirakan dihadiri umat Buddha dari berbagai daerah di Bali.

Selanjutnya pada Sabtu pagi, 9 Mei 2026, para Bhikkhu akan dilepas secara resmi oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Romo R. Muhammad Syafi’i, untuk memulai perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur.

Bhikkhu Khemaviro Thera mengatakan, para Bhikkhu nantinya akan berjalan kaki menuju Borobudur dengan target perjalanan sekitar 30 kilometer setiap harinya. Perjalanan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari ritual spiritual menyambut Waisak, tetapi juga membawa pesan perdamaian dan keharmonisan antarumat beragama.

Baca juga:  Waisak, Umat Buddha Kirab Dari Candi Mendut Menuju Borobudur

“Perjalanan ini menjadi simbol praktik kesederhanaan, kedisiplinan, dan penyebaran pesan damai kepada masyarakat,” ujarnya. (Yudha/balipost)

 

BAGIKAN