Pelajar mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sebanyak 61.515 siswa jenjang SMA, SMK, dan SLB di Bali resmi dinyatakan lulus pada tahun ajaran 2025/2026, Senin (4/5). Dari jumlah tersebut, lulusan SMK mendominasi dengan 31.118 siswa, disusul SMA sebanyak 30.209 siswa, dan SLB 188 siswa.

Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa Punia, menegaskan pengumuman kelulusan dilakukan serentak di seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta.

“Per hari ini tanggal 4 pengumuman sudah berjalan. Untuk meminimalisasi hal-hal yang tidak diinginkan, kami sudah koordinasi dengan aparat keamanan,” ujarnya, Senin (4/5).

Koordinasi dilakukan hingga jajaran Polda Bali, termasuk Polres dan Polsek, guna mengantisipasi potensi euforia berlebihan seperti konvoi kendaraan di jalan raya.

Baca juga:  Usia 15 Tahun Rebut Emas Porprov

Mekanisme pengumuman, lanjutnya, diserahkan kepada masing-masing sekolah dengan tetap mengedepankan aspek keamanan dan ketertiban. Sekolah juga diminta mengarahkan siswa agar merayakan kelulusan secara bijak.

Dominasi lulusan SMK dinilai mencerminkan kuatnya arah pendidikan vokasi di Bali yang selaras dengan kebutuhan dunia industri dan pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi daerah.

Secara wilayah, Kota Denpasar mencatat jumlah lulusan terbesar baik di jenjang SMA maupun SMK. Untuk SMA, Denpasar menyumbang 6.474 lulusan, disusul Badung 4.955 siswa dan Buleleng 4.584 siswa.

Sementara di SMK, Denpasar kembali tertinggi dengan 7.006 lulusan, diikuti Gianyar 5.383 siswa dan Buleleng 5.288 siswa.

Baca juga:  Pascapenyerangan Kantor Satpol PP Denpasar Libatkan Oknum TNI, Kodam IX/Udayana Temui Kasatpol PP

Di tingkat sekolah, SMA Negeri 1 Kuta Utara tercatat sebagai penyumbang lulusan SMA terbanyak dengan 706 siswa. Sedangkan di jenjang vokasi, SMK Werdhi Sila Kumara menjadi yang terbesar dengan 847 lulusan.

Wesnawa mengingatkan, kelulusan bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru yang harus dipertimbangkan secara matang oleh para siswa. “Tidak semua harus berbondong-bondong ke perguruan tinggi. Harus melihat kondisi ke depan dan berani mengembangkan potensi diri,” tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan, Pemprov Bali menyiapkan program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) dengan kuota 2.500 orang tahun ini. Namun, seleksi tetap dilakukan oleh masing-masing perguruan tinggi yang bekerja sama.

Program ini juga diarahkan terintegrasi dengan kebijakan sosial daerah, termasuk skema bantuan bagi anak ketiga dan keempat (Nyoman–Ketut), guna memperluas akses pendidikan tinggi.

Baca juga:  Disdikpora Bali Rombak Pola SPMB 2026, Nilai TKA Jadi Indikator Utama

Meski demikian, Wesnawa menekankan tidak semua lulusan dapat langsung terserap dalam program tersebut karena keterbatasan kuota dan seleksi yang ketat. “Perguruan tinggi yang menyeleksi, kemudian mengusulkan ke pemerintah. Jadi mekanismenya tetap berbasis kualitas dan kebutuhan,” jelasnya.

Dengan jumlah lulusan yang besar setiap tahun, pemerintah daerah menekankan pentingnya kesiapan generasi muda dalam menentukan arah masa depan, baik melanjutkan pendidikan maupun langsung terjun ke dunia kerja. “Yang terpenting, mereka mampu membaca peluang dan tantangan ke depan,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)

 

BAGIKAN