Kepala OJK Provinsi Bali Parjiman. (BP/dik)

DENPASAR, BALIPOST com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat stabilitas Industri Jasa Keuangan (IJK) di Bali tetap terjaga hingga Februari 2026, ditopang pertumbuhan kredit yang stabil, likuiditas memadai, serta lonjakan kuat pada kredit investasi.

Kepala OJK Provinsi Bali Parjiman mengatakan penyaluran kredit perbankan di Bali berdasarkan lokasi bank tumbuh 6,47 persen year on year (yoy) menjadi Rp119,75 triliun. Sementara kredit berdasarkan lokasi proyek tumbuh lebih tinggi, yakni 7,24 persen yoy menjadi Rp144,20 triliun.

Baca juga:  Kerugian Dana yang Dilaporkan Korban "Scam" Rp700,2 Miliar

“Pertumbuhan kredit masih didorong kuat oleh kredit investasi yang naik 17,81 persen yoy atau bertambah Rp6,32 triliun, terutama pada sektor penyediaan akomodasi, makan minum, dan real estate,” ujarnya di Denpasar, Jumat (1/5).

Kenaikan kredit investasi ini menjadi sinyal penting meningkatnya ekspansi usaha di Bali, khususnya sektor pariwisata dan properti, yang dinilai menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang Pulau Dewata.

Selain kredit investasi, kredit konsumsi juga tumbuh 4,98 persen yoy, sedangkan kredit modal kerja mengalami moderasi sebesar minus 2,45 persen yoy.

Baca juga:  2019, NPL BPR di Bali Capai 7,91 Persen

Dari sisi pelaku usaha, porsi kredit untuk UMKM tetap dominan mencapai 51,32 persen dari total kredit Bali dengan pertumbuhan 4,71 persen yoy. Penyaluran ini didominasi usaha mikro sebesar 42,17 persen dan usaha kecil 37,43 persen, menunjukkan sektor UMKM masih menjadi tulang punggung pembiayaan daerah.

Berdasarkan sektor ekonomi, data OJK Bali mencatat, kredit terbesar masih mengalir ke sektor bukan lapangan usaha sebesar 33,63 persen dan perdagangan besar-eceran 27,24 persen. Namun, pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor akomodasi dan makan minum yang naik 16,82 persen yoy atau bertambah Rp2,20 triliun.

Baca juga:  "Bali : Beats of Paradise" Tayang di Seoul Sky

Di sisi penghimpunan dana, imbuh Parjiman, Dana Pihak Ketiga (DPK) Bali tumbuh 6,05 persen yoy menjadi Rp204,59 triliun, terutama didorong kenaikan tabungan sebesar Rp6,53 triliun.

Likuiditas perbankan juga tetap memadai dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 58,53 persen pada Februari 2026, menandakan ruang intermediasi perbankan Bali masih cukup besar untuk mendukung pembiayaan ekonomi ke depan. (Suardika/balipost)

BAGIKAN