
BANGLI, BALIPOST.com – Nasib malang dialami dua bocah bersaudara, Juni Sugiarta (10) dan Agus Sentana (7,5), di Banjar Bukit Tungtung, Desa Songan B, Kintamani. Di usia yang masih kecil, keduanya harus menyandang status yatim piatu di tengah kondisi ekonomi yang serba kekurangan.
Ayah mereka, I Ketut Budi, meninggal dunia pada awal April lalu akibat keracunan metanol, menyusul ibu mereka Ni Nyoman Sedeng yang telah meninggal lima tahun lalu karena kanker serviks. Selain kehilangan orang tua, kedua anak ini juga kehilangan tempat tinggal. Rumah mereka roboh akibat diterjang angin puting beliung sekitar setahun lalu.
Kepala Dusun Bukit Tungtung, I Ketut Nadi mengungkapkan sejak rumah mereka rusak, kedua bocah tersebut tinggal menumpang di rumah bibinya yang berjarak 10 meter dari lokasi rumah lama. Mereka tinggal dalam satu rumah yang kini dihuni oleh lima orang. “Kondisi anak-anak sementara sehat,” ungkapnya, Rabu (29/4).
Meskipun dalam kondisi terbatas, anak tersebut tetap bersekolah. Juni Sugiarta saat ini duduk di kelas 3 SD 2 Songan, sementara Agus baru akan masuk sekolah dasar pada tahun ajaran baru mendatang.
I Ketut Nadi mengatakan untuk biaya makan dan bekal sekolah, keluarga bibinya tetap mengusahakan meskipun mereka sendiri termasuk keluarga kurang mampu yang hanya mengandalkan pendapatan suami sebagai buruh harian.
I Ketut Nadi mengaku telah mengusulkan bantuan bedah rumah agar kedua bocah ini memiliki tempat tinggal yang layak. Selain itu, pihaknya juga mengusulkan bantuan jaminan kesehatan dan keringanan biaya sekolah untuk masa depan keduanya.
“Untuk jaminan kesehatan kami harapkan bisa ditanggung semua termasuk keluarga yang mengasuh,” harapnya.
Ia menambahkan bahwa Dinas Sosial Kabupaten Bangli Rabu siang kemarin telah turun langsung meninjau kondisi kedua anak tersebut dan menyerahkan sejumlah bantuan kebutuhan dasar.
Sementara itu I Wayan Parwata, Analis Kebencanaan Dinas Sosial Kabupaten Bangli membenarkan pihaknya telah menyalurkan bantuan berupa sembako, makanan anak, lauk-pauk, kasur, hingga family kit.
Terkait permohonan bedah rumah, Parwata menjelaskan bahwa Dinsos Bangli tidak memiliki anggaran untuk program tersebut tahun ini. Namun, pihaknya akan menjalin komunikasi dengan perwakilan Kemensos di Bali agar dapat dibantu. “Untuk jaminan kesehatan, kedua anak tersebut sudah punya dan aktif. Mengenai pendidikannya, kami juga akan komunikasikan ke Kemensos,” jelas Parwata.
Menurutnya secara fakta di lapangan, mereka sangat membutuhkan bantuan. Meski data mereka belum masuk dalam sistem DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial), Dinsos akan melakukan pengecekan data kembali setelah dokumen kependudukan lengkap. “Karena kami belum mendapat KK nya sehingga saat ini kami belum bisa mengecek secara riil,”pungkasnya. (Dayu Swasrina/balipost)










