
DENPASAR, BALIPOST.com – Momentum Hari Kartini dimanfaatkan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Provinsi Bali untuk menegaskan peran strategis perempuan dalam penguatan ekonomi berbasis UMKM. Hal itu mengemuka dalam talkshow bertajuk “Kartini Masa Kini, Penggerak Ekonomi” yang digelar di Denpasar, Kamis (23/4).
Tiga narasumber dihadirkan dalam forum ini, yakni Ketua Umum DPD IWAPI Bali Komang Dyah Setuti, Anggota Komisi IV DPRD Bali Ni Wayan Sari Galung, serta CEO Nenek Moyang 69 Ketut Dian Sugiantari. Diskusi dipandu Wakil Ketua Umum I DPD IWAPI Bali Ni Wayan Parwati Asih.
Ketua Umum DPD IWAPI Bali, Komang Dyah Setuti, menegaskan bahwa perempuan kini memegang peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya melalui sektor UMKM. Kontribusi perempuan, menurutnya, tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi motor penggerak utama, baik di tingkat keluarga maupun masyarakat.
“Perempuan hari ini hadir sebagai pelaku usaha, pencipta lapangan kerja, sekaligus agen perubahan. Ini yang harus terus diperkuat agar UMKM kita bisa naik kelas,” ujarnya.
Anggota Komisi III DPRD Bali Fraksi Gerindra ini menyoroti kompleksitas tantangan yang masih dihadapi perempuan pelaku usaha. Mulai dari akses permodalan, peningkatan kapasitas, hingga keberanian menangkap peluang. Meski demikian, ia optimistis perempuan memiliki daya tahan dan kemampuan adaptasi yang tinggi.
“Di balik berbagai tantangan, perempuan justru menunjukkan ketangguhan. Mereka mampu bertahan, belajar, dan berkembang. Ini menjadi kekuatan utama dalam membangun ekonomi berbasis komunitas,” jelasnya.
Dalam diskusi tersebut juga mengemuka pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi, dan pelaku usaha guna menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan UMKM perempuan. Perempuan didorong tidak hanya menjadi pelaku usaha, tetapi juga tampil sebagai pemimpin yang mampu menentukan arah dan inovasi bisnis.
Semangat Kartini pun ditegaskan tetap relevan hingga kini. Perempuan didorong berani bermimpi besar, berani melangkah, serta tangguh bangkit menghadapi tantangan. Kartini masa kini hadir dalam sosok perempuan yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing.
Dyah Setuti menambahkan, semangat tersebut harus diwujudkan melalui langkah nyata, terutama dalam meningkatkan kualitas dan daya saing usaha di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang. “Perempuan tidak perlu menunggu peluang. Kita harus berani menciptakan peluang, memperluas jaringan, dan meningkatkan kapasitas diri,” tegasnya.
Tiga Kunci Utama Keberhasilan
Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Bali, Ni Wayan Sari Galung, menekankan tiga kunci utama agar seseorang dapat bertumbuh dan mencapai keberhasilan.
Pertama, memiliki growth mindset atau pola pikir bertumbuh. Ia menegaskan bahwa kemampuan bukan sesuatu yang tetap, melainkan dapat diasah melalui usaha dan latihan. “Kegagalan bukan akhir, tetapi data untuk perbaikan,” ujarnya.
Kedua, disiplin dalam langkah kecil dan konsisten. Menurutnya, banyak orang gagal karena menginginkan hasil instan. Padahal, kemajuan kecil yang dilakukan secara terus-menerus jauh lebih efektif dibanding ambisi besar yang tidak berkelanjutan.
Ketiga, berani beradaptasi dan terbuka terhadap umpan balik. Ia menilai perubahan yang cepat menuntut setiap orang untuk mau belajar ulang dan meninggalkan cara lama yang sudah tidak relevan.
Selain itu, Sari Galung juga membagikan sejumlah tips praktis. Di antaranya, berani memulai tanpa menunggu sempurna, menghadapi rasa takut gagal, keluar dari zona nyaman, fokus pada tujuan, serta rutin melakukan evaluasi diri.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengisahkan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan. Lahir dari keluarga sederhana di Gilimanuk, ia sudah terbiasa berdagang sejak kecil. “Saya dititipkan ke kakak dan sejak kecil sudah berdagang,” ungkapnya.
Kini, selain aktif di dunia politik, ia juga menjalankan usaha minimarket dan restoran kecil. Perjalanan karier politiknya pun tidak direncanakan sejak awal. Ia pertama kali menjadi anggota DPRD Kota Denpasar pada 2009, bahkan menjadi satu-satunya perempuan yang terpilih saat itu.
“Sebenarnya saya tidak ingin menjadi anggota DPRD, tetapi karena kebutuhan partai dan adanya kuota 30 persen perempuan, saya akhirnya maju dan terpilih,” ungkapnya.
Ia juga sempat menjabat sebagai kepala lingkungan di usia 37 tahun, sebuah posisi yang diakuinya penuh tantangan. Setelah sempat vakum untuk fokus membesarkan anak, ia kembali dipercaya menjadi anggota DPRD Provinsi Bali pada 2019 hingga sekarang.
Menurutnya, keberhasilan tidak datang tanpa perjuangan. Ia pun mendorong perempuan untuk tidak ragu mengambil peluang, termasuk di dunia politik. “Tidak ada yang tidak mungkin. Kalau punya semangat, harapan, dan keberanian, pasti bisa,” tegasnya. (Ketut Winata/balipost)










