
DENPASAR, BALIPOST.com – Ketangguhan perempuan Bali tergambar dari berbagai hal. Tidak hanya dihadapi dengan tanggung jawab mengurus rumah tangga, perempuan Bali juga diharuskan mahir dalam urusan adat. Tidak hanya itu, dalam urusan ekonomi keluarga pun Kartini Bali turut diambil alih. Bahkan, tidak sedikit profesi lelaki kerap diambil oleh perempuan Bali.
Seperti halnya juru parkir (jukir) yang di ibu kota Provinsi Bali ini banyak ditemukan jukir perempuan. Seperti tak kenal lelah di tengah keriuhan mengurus rumah tangga dan adat, para jukir perempuan ini pun menyempatkan dirinya untuk berpanas-panasan atau kehujanan dalam menjalankan profesinya sebagai jukir dengan tujuan membantu perekonomian keluarga.
Di Kota Denpasar, Perumda Bhukti Praja Sewakadarma (BPS) atau PD Parkir mencatat ada sekitar 40 orang perempuan yang menjadi jukir. Secara total jumlah jukir di Denpasar tercatat 1.000 orang yang terbagi 960 jukir pria dan 40 orang jukir perempuan. Ke-40 jukir perempuan ini tersebar di empat kecamatan di Kota Denpasar.
Salah seorang perempuan jukir yang ditemui di Sidakarya, Denpasar Selatan, Ni Kadek Tiwi mengaku telah menjadi jukir di Pasar Adi Kusuma Sidakarya sejak 2019 atau sejak awal pandemi Covid-19.
Saat ditemui, Selasa (21/4), dia mengakui bahwa profesi ini memang cukup berat, namun untuk membantu ekonomi keluarga, profesi yang berat sekalipun akan menjadi ringan. “Dibilang berat ya berat, dibilang enggak ya enggak. Yang penting kita bisa menikmati pekerjaan, jalaninya,” katanya.
Diakuinya, tantangan dalam profesi menjadi tukang parkir ini cukup banyak. Mulai dari cibiran yang didapatkannya hingga sering disebut pungli (pungutan liar). Untuk penghasilan, diakuinya cukup untuk makan dan bekal anak sekolah. “Saya punya 5 anak, buat bekal anak sekolah, buat makan. Astungkara terlewati,” ungkapnya.
Dia berharap ke depannya kehidupannya bisa menjadi lebih baik, rejeki bisa dipermudah meski profesi yang dijalani cukup berat. (Widiastuti/bisnisbali)










