Sejumlah tabung gas LPG berbagai ukuran. (BP/eka)

BANGLI, BALIPOST.com – Kenaikan harga LPG nonsubsidi memaksa pengusaha restoran di Bangli putar otak. Untuk menyiasati pembengkakan biaya operasional, pelaku usaha kini berupaya melakukan efisiensi semaksimal mungkin dan peralihan bahan bakar karena tidak bisa sembarangan menaikkan harga jual kepada konsumen.

Seperti yang dilakukan I Ketut Putranata, salah satu pengusaha restoran di Kintamani. Dia mengungkapkan harga menu di restorannya utamanya untuk layanan prasmanan (buffet) sulit dinaikkan secara mendadak karena sudah dipatok dalam kontrak kerja sama. Saat ini sekitar 70 persen bisnisnya bergantung pada menu prasmanan.

“Kalau berkontrak susah sekali menaikkan harga tiba-tiba. Kalaupun kami mau mengurangi item menu prasmanan, harus disetujui travel agennya,” ujarnya, Selasa (21/4).

Baca juga:  Praktik Pengelolaan Ruang di Bali Dikendalikan Kekuatan Modal, Negara Didesak Kembali Ambil Peran

Pihaknya hanya bisa melakukan penyesuaian harga pada menu yang dipesan secara satuan. Sebab tidak terikat kontrak. “Kalau porsinya kan tidak bisa diutak Atik. Jadi mau tidak mau kami harus melakukan penyesuaian harga,” ujarnya.

Untuk menyiasati dampak kenaikan harga LPG Non-subsidi, Putranata juga mengungkapkan pihaknya akan beralih sepenuhnya menggunakan LNG. Harga LNG menurutnya lebih murah 20 persen dibanding LPG.

“Kami sudah mulai beralih menggunakan LNG sebelum kenaikan LPG non subsidi. Beberapa restoran lain di Kintamani juga sudah beralih ke LNG,” jelasnya.

Baca juga:  Harga Emas Naik Tiga Hari Beruntun, UBS dan Galeri24 Sentuh Level Tertinggi Pekan Ini

Sementara itu, pasca kenaikan LPG nonsubsidi, Tim Pengendalian Inflasi kabupaten Bangli telah melakukan monitoring stok LPG di beberapa pangkalan. Sekretaris TPID Bangli Dwi Wahyuni mengatakan sampai saat ini stok LPG bersubsidi masih mencukupi dan pendistribusian dari SPBE ke masing-masing agen dan pangkalan masih lancar. Tidak ada kelangkaan di masyarakat.

“Pendistribusian LPG Non Subsidi di wilayah Bangli yang didatangkan dari luar Bangli sampai saat ini masih lancar belum ditemukan adanya panic buying di masyarakat,” terangnya.

Dia juga mengatakan, kenaikan harga LPG Non subsidi belum berdampak terhadap kenaikan harga bahan pokok lainnya. Berdasarkan hasil monitoring harga di pasar Senin kemarin belum ditemukan adanya kenaikan pada harga bahan pokok. Beberapa komoditi justru mengalami penurunan harga terutama pada bawang merah dan cabai.

Baca juga:  Kandang Pengusaha Babi Guling Tertimpa Pohon Tumbang

Kenaikan harga LPG non subsidi cukup signifikan. LPG ukuran 5,5 kg naik Rp 12 ribu dari harga semula Rp 95.000 per tabung naik menjadi Rp 107.000 per tabung. Sedangkan untuk ukuran 12 kg naik Rp 40 ribu dari harga Rp 188.000 per tabung menjadi Rp 228.000 per tabung. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN