
NEGARA, BALIPOST.com – Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Jembrana melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap ketersediaan minyak goreng di Pasar Umum Negara, Selasa (21/4). Langkah ini dilakukan untuk memantau stok sekaligus perkembangan harga di pasar terbesar di wilayah tersebut.
Hasil sidak menunjukkan minyak goreng kemasan mulai sulit ditemukan di sejumlah lapak pedagang. Selain itu, harga juga mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
Sejumlah pedagang mengaku, kelangkaan mulai terasa sejak sekitar satu bulan terakhir. Kenaikan harga pun terjadi bertahap, berkisar Rp2.000 hingga Rp5.000 per liter, tergantung merek. Jika sebelumnya harga berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp16.000 per liter, kini melonjak menjadi Rp19.000 hingga Rp22.000 per liter.
Tak hanya itu, minyak goreng kemasan sederhana merek “Minyak Kita” yang merupakan program pemerintah, disebut sudah tidak terlihat lagi di pasaran sejak beberapa pekan terakhir.
Salah seorang pedagang sembako di Pasar Umum Negara, Endang Astuti, mengaku kesulitan mendapatkan pasokan dari distributor. Kondisi ini berdampak langsung pada stok di tingkat pedagang yang semakin menipis.
Hal serupa disampaikan pedagang lainnya, Syafii. Ia menyebut kenaikan harga tidak bisa dihindari karena harga dari pemasok juga ikut naik, sementara pasokan tidak menentu.
Petugas dari Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Jembrana, I Putu Gede Mahaputra, mengatakan sidak tidak hanya dilakukan di pasar, tetapi juga akan menyasar distributor guna menelusuri penyebab kelangkaan.
“Kami akan telusuri sampai ke tingkat distribusi untuk mengetahui penyebab pasti kelangkaan dan kenaikan harga ini,” ujarnya.
Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Satgas Pangan Jembrana guna mengambil langkah penanganan agar ketersediaan minyak goreng kembali stabil di pasaran. (Surya Dharma/Balipost)










