Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia Ni Luh Puspa. (BP/kmb)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia Ni Luh Puspa menegaskan makna Hari Raya Nyepi tidak hanya sebatas hening secara fisik, tetapi juga mengajarkan pengendalian diri, kesederhanaan, dan keseimbangan hidup. Nilai yang kini menjadi fondasi penting dalam pengembangan pariwisata ke depan.

Menurutnya, konsep Nyepi mencerminkan bagaimana manusia menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, termasuk mengendalikan keinginan dan emosi. Nilai spiritual ini dinilai semakin relevan dengan tren wisata global saat ini.

“Wisatawan sekarang tidak lagi mencari keramaian atau sekadar harga murah, tetapi lebih pada pengalaman yang memberikan ketenangan, refleksi diri, serta kedekatan dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan,” ujarnya dalam Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Caka 1948 di Politeknik Pariwisata Bali, Jumat (17/4).

Baca juga:  Ribuan UMKM di Badung Terima Stimulus Tahap II

Ni Luh Puspa menyebut, tren spiritual tourism atau wisata berbasis ketenangan batin kini semakin diminati. Bahkan, destinasi yang sebelumnya identik dengan hiburan malam mulai bergeser.

Kementerian Pariwisata menggelar rangkaian Dharma Santi Nyepi tingkat nasional sebagai momentum memperkuat kebersamaan dan solidaritas internal. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk kembali mengingat tujuan dan visi besar kementerian dalam mendorong kemajuan bangsa melalui sektor pariwisata.

Baca juga:  Nyepi Bersamaan dengan Malam Takbiran, Tokoh Agama Bali Terbitkan Seruan Bersama

“Ini menjadi ruang untuk merekatkan dan menguatkan kebersamaan kita, baik sebagai bagian dari Kemenpar maupun sebagai bangsa,” ujarnya.

Momentum refleksi dan penguatan visi melalui dharma santi, seluruh jajaran diharapkan dapat kembali memahami arah dan tujuan pembangunan pariwisata nasional. “Harapannya, kita saling mengingatkan apa tujuan kita ada di sini dan visi yang ingin dicapai, yakni memajukan bangsa melalui pariwisata,” katanya.

Kegiatan ini tidak hanya melibatkan pembinaan rohani Hindu, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan lintas agama di lingkungan Kemenpar. Selain Bina Rohani Hindu yang dipimpin oleh jajaran internal kementerian, kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan Bina Rohani Islam dan Kristen.

Baca juga:  Nyepi Bersamaan dengan Ramadan, Masyarakat Diimbau Jaga Toleransi

Sebelumnya, Kemenpar juga telah menggelar kegiatan serupa dalam bentuk halal bihalal nasional saat Idulfitri, sebagai bagian dari upaya menjaga harmoni dan toleransi. Melalui kegiatan lintas keagamaan ini, Kemenpar menegaskan komitmennya dalam membangun lingkungan kerja yang harmonis sebagai fondasi untuk mendorong pariwisata Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan. (Suardika/balipost)

BAGIKAN