Sumber Mumbul mengalami penurunan debit air sejak 1988. (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Penurunan debit air di Sumber Mumbul, di Kota Singaraja kian mengkhawatirkan. Kondisi ini diduga dipicu oleh alih fungsi lahan dan berkurangnya daya resap tanah, sehingga mengganggu ketersediaan air bersih ke depan.

Data menunjukkan, kapasitas sumber air bersih yang ada di sumber utama Mumbul, Singaraja, pada tahun 1988 mencapai sekitar 175 liter per detik, kini menyusut menjadi hanya sekitar 120 liter per detik. Dalam kurun 38 tahun mengalami penyusutan hampir 32 persen.

Direktur Utama Perumda Tirta Hita Buleleng, Made Lestariana mengungkapkan bahwa penurunan debit air tidak hanya terjadi di Sumber Mumbul, tetapi juga pada sejumlah mata air lainnya. Ia mencontohkan salah satu mata air di kawasan Pangkung Dalem yang sebelumnya mampu menghasilkan hingga 300–400 liter per detik, kini hanya berkisar antara 175 hingga 300 liter per detik.

Baca juga:  Ini Jadwalnya! Cek Pemadaman Listrik Sementara di Bali pada 19 Mei 2025

Menurutnya, fenomena ini menjadi peringatan serius akan potensi krisis air di masa depan. Berkurangnya kawasan resapan akibat alih fungsi lahan disebut sebagai faktor utama yang menyebabkan menurunnya kemampuan tanah menyimpan air.

“Secara ilmu, jumlah air itu sebenarnya konstan. Namun yang berubah adalah distribusinya. Dulu air banyak tersimpan di dalam tanah, sekarang daya resap berkurang sehingga ketersediaan air tanah ikut menurun,” ujarnya, Minggu (12/4).

Baca juga:  Tambahan Kasus COVID-19 Nasional Lebih dari 2 Kali Lipat Pasien Sembuh Baru

Ia menambahkan, kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk mulai mengoptimalkan pemanfaatan air permukaan seperti dari waduk dan sungai sebagai alternatif sumber air baku. Sementara itu, ketergantungan pada sumber mata air dinilai tidak lagi bisa diandalkan sepenuhnya karena tren penurunan yang terus terjadi.

Di sisi lain, Lestariana juga mengingatkan bahwa ke depan biaya pengolahan air diperkirakan akan semakin meningkat. Hal ini seiring dengan kebutuhan penggunaan teknologi dalam mengolah air permukaan agar layak dikonsumsi masyarakat.

Baca juga:  Dari China Airlines Sudah Mendarat Perdana hingga Pencuri Bawa Lari Emas dan Uang

“Ke depan masyarakat harus mulai terbiasa mengonsumsi air olahan. Namun tentu ada konsekuensi biaya yang juga akan semakin tinggi,” jelasnya.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air. Upaya seperti penanaman pohon diharapkan tidak hanya bersifat seremonial, melainkan harus dilakukan secara berkelanjutan dan terencana guna meningkatkan kembali daya resap tanah.

“Ini perlu kerja bersama. Bagaimana ke depan kita bisa melakukan transformasi pengelolaan air agar lebih baik dan berkelanjutan,” tandasnya. (Nyoman Yudha/balipost)

BAGIKAN