
SINGASANA, BALIPOST.com – Keterbatasan tenaga panen selalu jadi persoalan klasik bagi petani di Subak Lanyah Delod Jalan, Desa Tangguntiti, Kecamatan Selemadeg Timur, bahkan saat panen raya 2026. Kondisi ini berdampak pada lambatnya proses panen di tengah luas areal garapan yang mencapai 220 hektare. Belum lagi hasil produksi mengalami akibat faktor cuaca.
Pekaseh Subak Lanyah Delod Jalan, I Made Purwadana, mengungkapkan minimnya tenaga kerja membuat petani kesulitan menyelesaikan panen secara cepat. Bahkan, untuk lahan sekitar 50 are saja, proses panen bisa memakan waktu hingga enam hari jika tenaga terbatas.
“Panen tidak bisa dikerjakan sendiri. Harus berkelompok. Kalau tenaga kurang, otomatis waktu panen jadi lama,” ujarnya, Minggu (5/4).
Ia menambahkan, kondisi tersebut sempat memaksa petani menunggu kedatangan pekerja dari luar Bali. Namun, pasca Hari Raya Idul Fitri, tenaga panen mulai berdatangan sehingga situasi berangsur membaik.
“Waktu itu kami sempat menunggu tukang panen dari Jawa. Sekarang sudah mulai datang dan kondisi lebih stabil,” katanya.
Selain persoalan tenaga kerja, hasil panen padi tahun ini juga mengalami penurunan. Produksi tercatat hanya berkisar 60–70 kilogram per are, lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 70–80 kilogram per are.
Penurunan ini dipicu faktor cuaca, terutama hujan dan angin kencang saat tanaman padi memasuki fase pengisian bulir. Akibatnya, bulir padi tidak terisi penuh sehingga memengaruhi hasil panen.
“Waktu padi hamil buah, kena angin kencang. Itu yang membuat hasilnya tidak maksimal,” jelas Purwadana.
Menghadapi kondisi tersebut, petani berharap adanya dukungan alat panen modern seperti combine harvester guna meningkatkan efisiensi kerja di tengah keterbatasan tenaga. Dengan mekanisasi, proses panen diharapkan bisa lebih cepat dan tidak terlalu bergantung pada tenaga manual.
Usai panen padi, petani di subak ini langsung bersiap memasuki musim tanam berikutnya dengan komoditas jagung. Namun, mereka dituntut bergerak cepat karena sistem pertanian masih bergantung pada air hujan.
“Kalau terlambat tanam jagung, bisa kesulitan air. Jadi harus cepat,” ujarnya.
Dalam setahun, petani umumnya melakukan dua kali tanam, yakni padi dan jagung. Tahun ini bahkan direncanakan pola tanam tiga kali, yaitu jagung–padi–jagung, dengan harapan produksi dapat meningkat.
Dari sisi sarana, subak ini sebelumnya telah mendapat bantuan sumur air, dua unit traktor, dan tiga unit power thresher. Sementara untuk pengendalian hama, dilakukan secara terpadu, baik teknis maupun niskala.
“Kami bersihkan lingkungan sawah agar tikus tidak bersarang, dan secara niskala juga memohon di pura. Astungkara sejauh ini masih terkendali,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga yang hadir dalam panen raya secara simbolis, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendukung sektor pertanian, terutama dalam menjaga keberlanjutan irigasi dan ketersediaan air.
“Panen raya ini merupakan hasil kerja keras petani yang didukung kolaborasi semua pihak. Pemerintah akan terus hadir memperkuat sektor pertanian sebagai fondasi pembangunan daerah,” tegasnya.(Puspawati/balipost)










