Ribuan umat mengikuti upacara pamelastian pralingga Ida Bhatara ke mata air Tegal Suci, Selasa (31/3). (BP/nan)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Ribuan umat Hindu mengikuti prosesi melasti pralingga Ida Bhatara Pura Agung Besakih serangkaian upacara Tawur Tabuh Gentuh dan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) di Pura Agung Besakih. Melasti dilaksanakan di pasucian atau sumber mata air Tegal Suci yang berlokasi di Banjar Dinas Tegenan, Desa Menanga, pada Selasa (31/3).

Ketua Panitia Karya Karya IBTK Pura Agung Besakih, Jro Mangku Widiartha mengungkapkan, pelaksanaan upacara melasti ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Pralingga Ida Bhatara memargi menuju lokasi tempat pasucian pada pukul 10.00 WITA.

Baca juga:  Pasebaya Sebut Erupsi Gunung Agung Nyaris Terjadi Setiap Hari Raya

“Ada sebanyak 22 pralingga Ida Bhatara yang memargi untuk melasti ke Tegal Suci, termasuk pralingga Catur Lawa dan Catur Loka Pala. Untuk pralingga Ida Bhatara yang pertama memargi yakni pralingga Catur Lawa, Ida Ratu Bagus Pande, Ida Ratu Pasek, Penyarikan, dan diikuti oleh pralingga Ida Bhatara yang lainnya di belakangnya. Dan ada sejumlah pralingga dari belasan padharman nyanggra di ambal-ambal,” Ucapnya.

Baca juga:  Jika Gunung Agung Erupsi, 70 Ribu Warga Diperkirakan Mengungsi

Widiartha, mengatakan, sebelum pralingga Ida Bhatara melasti ke pasucian Tegal Suci, kemarin telah digelar upacara nedunang pralingga Ida Bhatara ke Pasamuhan Agung pukul 15.00 WITA. Sebelum upacara nendunang pralingga, lebih dulu telah dilaksanakan upacara mapiuning dan nuwur tirta.

“Tujuan dari nedunang pralingga Ida Bhatara ini sebagai simbol bahwa Ida Bhatara kabeh sudah turun atau berkumpul di Pasamuhan Agung. Itu juga bisa diartikan adanya pertemuan untuk kelanjutan prosesi masucian ke pasucian Tegal Suci. Upacara nedunang pralingga Ida Bhatara di-puput oleh pemangku masing-masing pangempon,” katanya.

Baca juga:  Kasus Mulai Meningkat, Warga Dimintai Waspada DBD

Dia menjelaskan, upacara melasti diikuti oleh krama Desa Adat Besakih dan Desa Adat Pragunung atau desa penyangga. “Masing-masing pemaksan, kramanya mundut Ida Bhatara saat memargi menuju Tegal Suci, dan saat mewali (kembali) menuju Pura Agung Besakih.

Lebih lanjut dikatakannya, pihaknya telah mengimbau kepada seluruh krama yang mengikuti upacara pamelastian ini agar tidak membuang sampah di sepanjang jalur yang dilalui. (Eka Parananda/balipost)

 

BAGIKAN