Pemandangan wisata Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan.(BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Petani Jatiluwih, Kecamatan Penebel selama dua hari sejak Minggu (29/3) hingga Senin (30/3) menghentikan seluruh aktivitas pertanian mereka di sawah. Hal ini serangkaian pelaksanaan ritual Nyepi Sawah.

Manajer DTW Jatiluwih, I Ketut Purna mengatakan, ritual ini merupakan tradisi untuk nyomia prewasia atau menetralisir kekuatan negatif yang ada di sawah agar hasil panen baik dan melimpah dan sudah secara turun-temurun dilakukan. “Selama dua hari pelaksanaan, tidak diperbolehkan ada aktivitas apapun di sawah,” ujarnya.

Baca juga:  Petani dan Nelayan Ikuti Pasar Gotong Royong Krama Bali

Ia menjelaskan, Nyepi Sawah dilaksanakan sebanyak lima kali dalam setahun dengan cakupan lahan mencapai 227,41 hektare. Pelaksanaannya mengikuti siklus pertumbuhan padi.

Rinciannya, tiga kali dilakukan saat penanaman padi beras merah dan dua kali saat fase padi masih muda atau padi cicih. Rangkaian upacara diawali dengan nunas tirta atau memohon air suci, dilanjutkan dengan persembahyangan di Pura Pucak Petali dan Pura Candikuning sebagai pura penyiwian subak. Selain itu, ritual juga dilaksanakan di Pura Bedugul dan pura sawah di masing-masing wilayah subak.

Baca juga:  Hujan Lebat Rusak Hektaran Tanaman di Sinduwati

“Tujuannya untuk Nangkluk Merana, yakni menghilangkan unsur negatif di sawah,” jelasnya.

Meski aktivitas pertanian dihentikan, kegiatan pariwisata di DTW Jatiluwih tetap dibuka. Namun, wisatawan hanya diperbolehkan beraktivitas di jalur trekking dan tidak diperkenankan masuk hingga ke area pematang sawah.

Menurutnya, tradisi Nyepi Sawah telah diwariskan secara turun-temurun oleh petani Jatiluwih dan mulai dipatenkan sejak tahun 1933. Ritual ini juga tercatat dalam lontar Dharma Pemaculan sebagai pedoman bertani secara tradisional.(Puspawati/balipost)

Baca juga:  Dinas Pertanian Badung Mulai Kembangkan Bawang Merah

 

BAGIKAN