Wisatawan menggunakan payung untuk melindungi diri dari panasnya sinar matahari saat berjalan di jogging track Pantai Kuta, Badung. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dalam beberapa hari terakhir, warga Bali merasakan suhu udara yang lebih panas dari biasanya. Terik matahari terasa menyengat sejak siang hingga sore hari, memicu rasa gerah dan tidak nyaman dalam beraktivitas di luar ruangan.

Prakirawan BBMKG Wilayah III Denpasar, I Made Sudarma Yadnya, saat dikonfirmasi Senin (30/3) menjelaskan bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, baik skala global maupun kondisi lokal di Bali.

Faktor utama adalah pergerakan semu matahari. Memasuki bulan Maret, posisi matahari bergerak dari belahan bumi selatan menuju garis khatulistiwa. Akibatnya, penyinaran matahari ke wilayah Indonesia, termasuk Bali, menjadi lebih intens karena sudut datang sinar hampir tegak lurus. Kondisi ini membuat suhu permukaan bumi meningkat signifikan, terutama pada siang hari.

Baca juga:  Jelang Berakhirnya Masa Kerja, Pansus TRAP Masih Punya 3 PR Besar Belum Terselesaikan

Selain itu, panas yang dirasakan juga diperparah oleh minimnya tutupan awan di sejumlah wilayah. Tanpa awan sebagai penghalang, radiasi sinar ultraviolet (UV) dan panas matahari langsung mencapai permukaan bumi. Dampaknya, suhu terasa lebih terik dan kulit lebih cepat merasakan panas.

Dari sisi pengamatan, dinamika atmosfer juga berperan. Dalam sepekan terakhir, suhu maksimum harian di kawasan Sanglah, Denpasar, tercatat berada di kisaran 33 hingga 35 derajat Celcius. Meski terasa menyengat, angka tersebut masih tergolong normal untuk periode Maret.

Baca juga:  Karena Ini, Capaian Vaksinasi Nakes Dosis II di Bali Baru Capai 62 Persen

Terkait durasi, kondisi cuaca panas ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal April. Namun demikian, karakter cuaca saat ini yang berada pada masa peralihan atau pancaroba memungkinkan terjadinya hujan lebat secara tiba-tiba di tengah dominasi panas terik.

Atas kondisi ini, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap dampak cuaca panas. Penggunaan tabir surya (sunscreen), payung, atau pelindung lainnya disarankan saat beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, menjaga asupan cairan tubuh juga penting guna mencegah dehidrasi di tengah suhu yang cukup tinggi. (Ketut Winata/balipost)

Baca juga:  Berkibar di Pantai Bias Putih, Bendera Palu-Arit Gegerkan Warga
BAGIKAN