Pekerja memindahkan ikan Tuna dari kapal pengangkut menuju truk sebelum dibawa ke pengolahan. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Potensi laut yang mencapai sekitar 62 persen dari wilayah Bali mulai dipetakan. Bukan sekadar produksi, melainkan bagaimana hasil laut diproses hingga bernilai tinggi di dalam daerah.

Hilirisasi kini didorong sebagai strategi utama untuk mencegah ekspor bahan mentah, terutama bibit ikan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Bali, I Putu Sumardiana, menegaskan arah kebijakan ini selaras dengan visi Gubernur Bali melalui konsep Ekonomi Kerthi Bali yang menempatkan sektor kelautan sebagai salah satu pilar transformasi ekonomi.

“Potensi kita besar, laut mencapai sekitar 62 persen wilayah Bali dengan garis pantai 651 kilometer. Tantangannya sekarang bagaimana potensi ini tidak hanya dijual mentah,” tegasnya, Jumat (27/3).

Hasil pemetaan menunjukkan kekuatan perikanan Bali tersebar di hampir seluruh wilayah pesisir dengan karakter komoditas berbeda. Badung kuat di tembang, lemuru hingga tuna sirip kuning. Tabanan menghasilkan kakap merah, layur dan kerapu.

Baca juga:  Pemprov Bali Larang Pementasan Joged Bumbung Jaruh

Jembrana dikenal sebagai lumbung lemuru dan cumi, sementara Buleleng unggul pada tongkol, cakalang hingga baronang.

Dari sisi volume, Karangasem mencatat produksi tongkol krai tertinggi mencapai 20.475 ton lebih. Denpasar menyusul dengan produksi cakalang 7.501 ton dan tuna sirip kuning 6.689 ton. Buleleng dan Badung juga menjadi kontributor penting.

Namun di balik produksi yang besar itu, pola bisnis masih didominasi penjualan bahan mentah. Produksi perikanan tangkap cenderung stagnan karena sangat bergantung pada musim dan cuaca, termasuk periode paceklik saat nelayan tidak melaut.

Untuk mengatasi stagnasi, pemerintah menggenjot budidaya sebagai penopang yang lebih stabil. Salah satu proyek percontohan ada di Gerokgak, tepatnya Desa Pejarakan, melalui budidaya bandeng di laut.

Program ini bahkan sudah masuk tahap hilirisasi. Panen perdana sekitar 3 ton langsung terserap pasar, menandakan rantai produksi hingga distribusi mulai terbentuk.

Baca juga:  Kumpulkan Kepala OPD, Gubernur Koster Target 2020 Genjot Pelaksanaan Program

Selama ini Bali dikenal sebagai eksportir besar bibit bandeng (nener), dengan volume pengiriman bisa mencapai lebih dari satu juta ekor sekali kirim ke negara seperti Filipina. Kini, pola itu mulai diubah.

“Kita dorong tidak hanya jual bibit, tapi dibesarkan di sini. Memang butuh waktu sekitar empat bulan, tapi nilai ekonominya jauh lebih tinggi,” jelas Sumardiana.

Perubahan model bisnis ini mulai menunjukkan efek berganda. Budidaya membuka lapangan kerja baru, dari pembesaran, pakan, hingga distribusi hasil panen. Tenaga kerja lokal pun terserap lebih luas dibanding pola lama yang hanya bertumpu pada penangkapan atau penjualan bibit.

Selain bandeng, sektor budidaya Bali juga berkembang pesat. Jembrana mencatat produksi udang vaname tertinggi mencapai 5.320 ton, disusul Buleleng lebih dari 3.000 ton. Klungkung unggul pada rumput laut eucheuma cottonii dengan produksi di atas 12.000 ton. Sementara Gianyar berkembang di komoditas lele.

Baca juga:  Cegah Harga Melambung Tinggi, TPID Bali Gelar Pasar Murah

Komoditas lain seperti nila, gurame, patin, hingga lobster juga dikembangkan sesuai karakter wilayah masing-masing.

Di tengah tren ekspor yang masih positif untuk tuna, kerapu dan bibit bandeng, pemerintah kini menyeimbangkan dua kepentingan, yakni memenuhi kebutuhan lokal dan menjaga pasar internasional.

Hilirisasi menjadi kunci agar Bali tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga produsen produk bernilai tinggi. Dengan strategi ini, sektor kelautan dan perikanan diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah.

Jika konsisten, perubahan ini bukan hanya soal peningkatan angka produksi, tetapi transformasi menyeluruh. Dari laut yang selama ini “dikirim keluar”, menjadi sumber kesejahteraan yang diolah dan dinikmati lebih besar di dalam Bali sendiri. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN