
DENPASAR, BALIPOST.com – Tren kunjungan wisatawan ke desa wisata di Bali mengalami peningkatan signifikan saat libur panjang Nyepi dan Lebaran 2026. Lonjakan wisatawan terlihat di sejumlah destinasi unggulan, terutama Desa Wisata Penglipuran dan Jatiluwih yang menjadi barometer perkembangan desa wisata di Pulau Dewata.
Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkom Dewi) Bali, Made Mendra Astawa di Denpasar mengatakan, peningkatan kunjungan terjadi baik dari wisatawan domestik maupun lokal yang memanfaatkan momentum libur panjang.
Menurutnya, hasil pantauan di lapangan menunjukkan dua desa wisata ikonik, yakni Penglipuran dan Jatiluwih, menjadi indikator meningkatnya minat wisatawan terhadap destinasi berbasis alam dan budaya.
“Penglipuran dan Jatiluwih sudah menjadi ikon desa wisata Bali. Penglipuran dikenal sebagai desa terbersih, sedangkan Jatiluwih terkenal dengan pemandangan alamnya. Branding ini sangat melekat sehingga kunjungan wisatawan terus meningkat,” ujarnya Kamis (26/3).
Ia menjelaskan, khusus di Desa Wisata Penglipuran, lonjakan kunjungan terjadi menjelang Ngembak Geni hingga libur Lebaran. Dalam kondisi normal, kunjungan berkisar 1.000 hingga 2.000 wisatawan per hari, namun saat libur panjang melonjak hingga 5.000 orang per hari.
“Kemarin saat libur panjang, kunjungan di Penglipuran tembus 5.000 orang per hari. Hal serupa juga terjadi di Jatiluwih dan beberapa desa wisata lainnya,” jelasnya.
Mendra menilai, tren wisata saat ini mulai bergeser. Wisatawan cenderung mencari destinasi yang lebih tenang, alami, dan jauh dari keramaian atau dikenal dengan konsep hidden gem.
“Wisatawan sekarang mencari tempat yang tidak terlalu ramai, punya nilai tambah, dan menawarkan pengalaman berbeda. Hampir semua desa wisata memiliki budaya, tapi yang dicari wisatawan adalah nilai unik dan pengalaman baru,” katanya.
Meski kunjungan meningkat, ia mengakui desa wisata di Bali masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kapasitas kunjungan yang berlebih atau over capacity. Lonjakan kunjungan berpotensi menimbulkan masalah parkir, lalu lintas, dan tata kelola kawasan.
“Permasalahan utama adalah over kunjungan. Kapasitas ideal misalnya sekitar 2.000 orang per hari, karena jika terlalu padat akan menimbulkan kejenuhan wisatawan, masalah parkir, dan pengaturan lalu lintas,” tegasnya.
Ia berharap peningkatan kunjungan saat libur Nyepi dan Lebaran ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola desa wisata, sekaligus mendorong pemerataan kunjungan ke destinasi lain di Bali agar tidak terpusat di beberapa lokasi saja.
Manager Daya Tarik Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa mengatakan, ada peningkatan kunjungan saat momen liburan. Wisatawan yang datang didominasi dari kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung.
Ia mengungkapkan, total kunjungan wisatawan sepanjang Maret 2026 mencapai 23.811 orang, terdiri dari 18.713 wisatawan nusantara dan 5.098 wisatawan mancanegara. Kunjungan diperkirakan masih akan ramai hingga akhir Maret karena libur sekolah baru berakhir pada 29 Maret 2026. (Suardika/balipost)










