Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana saat memberikan keterangan pers disela-sela kunjungannya ke Bali Safari & Marine Park, Gianyar, Rabu (25/3). (BP/Win)

GIANYAR, BALIPOST.com – Di tengah tensi konflik antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat, sektor pariwisata Indonesia mulai bersiap menghadapi potensi guncangan, meski kondisi di Bali saat ini masih relatif stabil.

Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana, mengungkapkan bahwa lonjakan kunjungan wisatawan ke Bali masih terjadi berkat momentum libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 2026. Kunjungan tersebut bahkan tercatat meningkat sekitar 3,5 persen dibanding periode sebelumnya.

Namun di balik tren positif itu, sinyal tekanan eksternal mulai muncul. Dalam kunjungannya ke Bali Safari & Marine Park, Gianyar, Rabu (25/3), Menpar mengungkapkan ratusan penerbangan dari kawasan Timur Tengah terpaksa dibatalkan.

Baca juga:  Karena Indikator Ini, PHRI Optimis Pemulihan Pariwisata Tanah Air

“Sekitar 377 penerbangan ter-cancel, berdampak pada kurang lebih 50.000 penumpang yang tidak bisa datang ke Indonesia, tidak hanya ke Bali tetapi juga ke Jakarta dan destinasi lainnya,” ujarnya.

Situasi ini dinilai sebagai peringatan dini bagi sektor pariwisata nasional. Pemerintah kini tengah mengkaji apakah gangguan ini bersifat sementara atau berpotensi menjadi krisis berkepanjangan, terutama jika eskalasi konflik terus berlanjut.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mulai menyiapkan skenario alternatif. Salah satunya dengan mendorong kebijakan work from home (WFH) secara terbatas, baik untuk aparatur sipil negara maupun sektor swasta, guna menekan konsumsi energi di tengah ketidakpastian global.

Baca juga:  Sehari Tak Jadi Penyumbang Terbanyak Kasus COVID-19, Kabupaten Ini Kembali di Posisi Pertama

Di sisi lain, strategi pariwisata juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada pasar Timur Tengah. Pemerintah akan memperkuat konektivitas dengan negara-negara terdekat, sekaligus membuka lebih banyak rute langsung ke pasar Eropa.

Tak hanya itu, promosi lintas batas dan penguatan event internasional juga disiapkan sebagai “plan B” untuk menjaga arus kunjungan tetap stabil. Momentum positif turut didukung oleh predikat Bali sebagai destinasi terbaik dunia versi TripAdvisor tahun 2026, yang dinilai mampu menjaga citra Pulau Dewata di mata wisatawan global.

Baca juga:  Bali Berlakukan Relaksasi Pajak Kendaraan Bermotor

“Yang terpenting adalah memastikan Bali dan Indonesia tetap dipersepsikan aman dan menarik, meskipun ada gejolak global,” tegasnya.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap sektor pariwisata tetap resilien menghadapi dinamika global yang tak menentu. (Winata/balipost)

BAGIKAN