
DENPASAR, BALIPOST.com – Dinas Perhubungan (Dishub) Bali mengungkapkan sejumlah persoalan memicu macet parah di Pelabuhan Gilimanuk saat mudik Lebaran 2026.
Dikatakan Kepala Dishub Bali I Kadek Mudarta, salah satu penyebab kepadatan antrean di Pelabuhan Gilimanuk pada tiga hari pertama Posko Angkutan Lebaran 2026 ini adalah adanya kapal yang mengalami kebakaran.
“Itu kalau kita lihat kan dari awalnya itu memang sempat ada satu kapal yang mengalami kebakaran, salah satu kapalnya KMP Portlink itu hari Rabu,” kata Mudarta, Selasa (17/3) dikutip dari Kantor Berita Antara.
Mudarta di Denpasar, Selasa, mengatakan melihat kejadian itu menjadi salah satu penyebab kurangnya kemampuan angkut di penyeberangan Pelabuhan Gilimanuk.
Selain itu, menurut dia, terdapat truk yang mengalami masalah di alur mudik sehingga akses jalan tertumpu dan menimbulkan kemacetan, ditambah pula kapasitas Pelabuhan Gilimanuk yang terbatas, di mana sekalipun ASDP sudah menambah armada kapal, kapasitas dermaga tetap terbatas dan setiap kapal sandar butuh waktu untuk bongkar muatan.
“Ditambah memang pemudik juga makin maju keberangkatannya, untuk Pelabuhan Gilimanuk selama tiga hari penumpang keluar turun tipis 2 persen (dibanding tahun 2025), tapi khusus tanggal 15 Maret itu (saat antrean padat) naik sekitar 11 persen,” ujar Mudarta.
Jika dilihat berdasarkan data Dishub Bali, selama 13-15 Maret 2026 atau tiga hari pertama Posko Angkutan Lebaran, sebanyak 310.065 orang meninggalkan Bali.
Pergerakan orang keluar Bali didominasi via Pelabuhan Gilimanuk dengan 195.346 orang atau rata-rata 65.115 orang per hari, ujar dia.
Lebih lanjut ia mengatakan jika melihat pemetaan tersebut, khususnya di Pelabuhan Gilimanuk, akhir ya Dishub Bali melakukan beberapa langkah seperti penambahan kapal dibanding yang beroperasi reguler sembari menerapkan pola operasi kapal Tiba Bongkar Berangkat (TBB).
“Operasi TBB di Pelabuhan Kepatang untuk mempercepat kapal kembali ke Gilimanuk, karena prediksi kami sama kepolisian ya kepadatan sampai hari ini sih puncaknya,” kata Mudarta.
Terkait narasi kurangnya area istirahat di jalur mudik, ia mengatakan kondisi itu terjadi karena memang tingginya jumlah pemudik.
Untuk menekan penumpukan penumpang, ia mengatakan timnya juga sudah melakukan strategi seperti pengalihan penumpang sepeda motor ke zona penyangga atau jalan-jalan kecil sehingga tidak menumpuk di jalan nasional.
Dishub Bali menargetkan kepadatan di jalur mudik berangsur berkurang hingga besok malam, sebab pada Kamis (19/3), pukul 06.00 WITA seluruh jalur steril termasuk penghentian operasional penyeberangan dalam rangka Hari Raya Nyepi. (kmb/balipost)










