Pamelastian yang berlangsung di DTW Tanah Lot menjadi daya magnet tersendiri bagi para wisatawan. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Upacara melasti serangkaian hari raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948 di kawasan Pura Luhur Tanah Lot menyita perhatian wisatawan yang tengah berkunjung ke destinasi tersebut, Senin (16/3). Ritual sakral yang berlangsung sejak pagi hingga sore itu bahkan menjadi tontonan menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Tampak wisatawan antusias menyaksikan prosesi pemelastian yang melibatkan ribuan krama dari sejumlah desa adat di Kabupaten Tabanan. Banyak wisatawan mengabadikan momen arak-arakan pratima, jempana, hingga sesuhunan yang diiringi tabuh baleganjur saat menuju laut untuk prosesi penyucian.

Asisten Manajer DTW Tanah Lot, I Putu Tony Wirawan mengatakan, setiap tahun prosesi melasti memang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke kawasan tersebut. “Wisatawan biasanya sangat antusias menyaksikan prosesi ini. Yang paling sering mereka abadikan adalah saat sesuhunan seperti barong dan jempana diarak menuju laut,” ujarnya.

Baca juga:  Rakit Ribuan Kotak Suara, KPU Libatkan 30 Warga

Prosesi melasti di Tanah Lot sendiri telah berlangsung sejak Sabtu (14/3). Pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran oleh desa adat yang datang dari berbagai wilayah di Tabanan sesuai jadwal yang telah dikoordinasikan dengan pengelola kawasan pura.

Salah satunya Desa Beraban yang melaksanakan prosesi melasti pada Senin sore sekitar pukul 15.00 WITA. Ribuan krama dari 15 banjar adat berjalan kaki menuju pantai membawa pratima serta berbagai sarana upacara.

Baca juga:  Masuk Akhir Tahun, Kunjungan ke Nusa Penida Justru Turun

Sebelum menuju laut, pratima dari sejumlah pura di wilayah desa tersebut terlebih dahulu dikumpulkan di Pura Bale Agung Beraban. Dari pura itu, iring-iringan krama kemudian berjalan menuju Tanah Lot untuk melaksanakan prosesi penyucian diri dan alam semesta menjelang Nyepi.

Tony menambahkan, meskipun saat ini kunjungan wisatawan di Tanah Lot tengah memasuki masa low season, aktivitas budaya seperti melasti tetap memberi pengalaman berbeda bagi wisatawan. Saat ini rata-rata kunjungan wisatawan ke kawasan DTW Tanah Lot berkisar antara 1.200 hingga 1.300 orang per hari. Mayoritas wisatawan berasal dari kawasan Asia, sementara wisatawan asal Eropa masih relatif sedikit.

Baca juga:  Belasan Lontar Jabarkan Pelaksanaan Nyepi Sehari Setelah Tilem Kasanga, PHDI Bali Minta Umat Tak Terprovokasi

Menurutnya, menurunnya jumlah kunjungan juga dipengaruhi momentum bulan Ramadan yang hampir setiap tahun berdampak pada pergerakan wisatawan domestik. Namun pihaknya optimistis kunjungan akan kembali meningkat setelah memasuki masa libur Lebaran.

Untuk menambah daya tarik wisatawan saat libur Idul Fitri, pengelola DTW Tanah Lot juga menyiapkan hiburan tradisional seperti pertunjukan joged bumbung di area halaman kawasan wisata. “Kami berharap hiburan tersebut bisa memberi pengalaman menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Tanah Lot,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN