Warga binaan Lapas Tabanan saat berbagi cerita dan menyalurkan beban pikiran. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Lapas Kelas IIB Tabanan membuka ruang bagi warga binaan untuk berbagi cerita dan menyalurkan beban pikiran atau curhat selama menjalani masa pidana. Fasilitas itu diberikan melalui layanan konseling Therapy Stress Narapidana (Teh Rina) yang digelar di klinik lapas belum lama ini.

Sebanyak 12 warga binaan mengikuti sesi konseling secara bergantian. Pendampingan dilakukan oleh residen Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yakni dr. Angel, dr. Oky, dan dr. Deedee.

Baca juga:  Tim Gabungan Geledah Hunian Lapas dan Tes Urine 5 Warga Binaan

Dalam sesi tersebut, warga binaan diberi kesempatan mengungkapkan kegelisahan, tekanan, maupun persoalan pribadi yang selama ini dipendam. Konseling ini dimaksudkan sebagai ruang aman agar mereka dapat menyalurkan emosi sekaligus menemukan cara lebih sehat menghadapi tekanan selama menjalani masa hukuman.

Dokter Lapas Tabanan, Luh Putu Tresnadewi mengatakan, layanan konseling merupakan bagian dari pembinaan kepribadian yang berfokus pada kesehatan mental warga binaan. Menurut dia, kondisi psikologis yang stabil penting agar proses pembinaan di dalam lapas berjalan efektif.

Baca juga:  Kapolsek Denbar Diganti, Ini Pejabat yang Baru

“Melalui konseling ini kami berharap warga binaan dapat mengurangi beban pikiran. Jika kesehatan mentalnya terjaga, mereka akan lebih siap mengikuti berbagai program pembinaan,” ujarnya.

Salah seorang warga binaan, Gede, mengaku merasakan manfaat dari layanan tersebut. Ia mengatakan kesempatan untuk berbagi cerita membuat dirinya lebih lega setelah lama menyimpan berbagai perasaan. “Saya termasuk orang yang tertutup. Tapi lewat konseling ini saya mencoba terbuka. Setelah bercerita, rasanya jauh lebih ringan,” kata dia.

Baca juga:  Terima Remisi, Tujuh Warga Binaan Lapas Tabanan Langsung Bebas

Program Teh Rina diharapkan membantu warga binaan menjaga kesehatan mental selama menjalani masa pidana. Lapas Tabanan juga berharap kondisi psikologis yang lebih baik dapat menjadi bekal bagi mereka saat kembali ke masyarakat setelah bebas. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN