“Lungsur Segara” ogoh-ogoh karya ST Tritunggal Jaya, Banjar Dinas Delod Sema, Desa Riang Gede, Kecamatan Penebel. (BP/man)

SINGASANA, BALIPOST.com – Kreativitas generasi muda kembali terlihat dalam pembuatan ogoh-ogoh menjelang perayaan Nyepi. Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah ogoh-ogoh bertajuk “Lungsur Segara” yang digarap oleh Sekaa Truna (ST) Tri Tunggal Jaya, Banjar Dinas Delod Sema, Desa Riang Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan yang merupakan salah satu finalis Festival Singasana III.

Ogoh-ogoh berukuran besar ini mengangkat kisah tokoh raksasa bernama Sang Maya Cakru, putra Rahwana dalam cerita epos Ramayana. Proses pengerjaan ogoh-ogoh tersebut memakan waktu sekitar dua setengah bulan.

Yoana sekaligus undagi ogoh-ogoh ST Tri Tunggal Jaya, Made Darma Yuda, mengungkapkan selama proses pengerjaan para yoana bekerja bersama mulai dari pembuatan rangka, pembentukan karakter hingga tahap finishing dan pewarnaan. Selain menggarap tubuh ogoh-ogoh yang berukuran besar, tim juga menyiapkan berbagai ornamen serta busana pendukung agar karakter yang ditampilkan terlihat lebih hidup.

Baca juga:  Palebon Ida Cokorda Pemecutan XI, Warga Padati "Ngarak" Ogoh-ogoh

“Kurang lebih dua setengah bulan proses pengerjaannya. Dari membuat rangka sampai detail karakter semuanya dikerjakan bersama oleh anggota. Biaya pembuatan ogoh-ogoh ini sekitar Rp 25 juta,” ujar Darma, Jumat (13/3).

Jelas Darma, tema “Lungsur Segara” dipilih karena memiliki alur cerita yang kuat sekaligus sarat makna tentang emosi, amarah, dan dendam yang lahir dari hawa nafsu. Kisah bermula saat Rahwana menculik Dewi Sita untuk dijadikan istrinya. Ketika terbang melintasi lautan, nafsu Rahwana memuncak saat melihat kemolekan Dewi Sita hingga “kama” Rahwana jatuh ke tengah lautan. Peristiwa tersebut kemudian memunculkan cahaya terang yang terlihat oleh Dewa Brahma.

Baca juga:  Ratusan Ogoh-ogoh Terdata di Dentim, Polisi Antisipasi Gesekan

“Setelah mengetahui bahwa cahaya itu berasal dari kama Rahwana, Dewa Brahma kemudian menghidupkannya. Dari situlah lahir sosok raksasa yang kemudian diberi nama Sang Maya Cakru,” terang Darma.

Ia menambahkan, lautan tempat jatuhnya kama tersebut kemudian dipastu menjadi sebuah daratan yang dikenal dengan nama Lungsur Segara. Dari tempat itulah Maya Cakru tumbuh hingga dewasa.

Setelah dewasa, Maya Cakru diperintahkan oleh Bhatara Brahma untuk berguru kepada Bhatari Durga guna mempersiapkan dirinya menjadi seorang raja. Dalam masa berguru tersebut, Maya Cakru mempelajari berbagai ilmu kesaktian.

Baca juga:  Sidak Masker, Pelanggar Dikenai Sanksi 100 ribu dan Push Up

Namun setelah menyelesaikan masa belajarnya, Maya Cakru justru menyimpan niat untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, Rahwana. Ia berencana membunuh Sang Rama, Raja Ayodya Pura. Niat tersebut akhirnya diketahui oleh Hanoman hingga terjadi pertarungan sengit antara Maya Cakru dan Hanoman.

“Melalui ogoh-ogoh “Lungsur Segara”, kami ingin menggambarkan sosok Maya Cakru sebagai simbol kekuatan besar yang lahir dari amarah dan dendam,” tandasnya. (Ngurah Manik/bisnisbali)

BAGIKAN