
DENPASAR, BALIPOST.com – Setiap pagi, sebelum aktivitas dimulai, jutaan umat Hindu di Bali menata canang sari di halaman rumah, pura keluarga, hingga tempat usaha. Wangi bunga dan dupa menjadi tanda dimulainya hari, sekaligus simbol syukur kepada Sang Hyang Widhi.
Tradisi yang tampak sederhana itu ternyata menyimpan nilai ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat Bali. Pemerintah Provinsi Bali kini mulai mencoba menghitungnya secara lebih serius. Melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Provinsi Bali, pemerintah melakukan kajian untuk mengetahui berapa besar biaya yang dikeluarkan masyarakat dalam menjalankan berbagai upacara adat dan keagamaan sepanjang tahun.
Kepala Brida Provinsi Bali, Ketut Wica, mengatakan penelitian ini penting sebagai dasar bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang dapat membantu masyarakat dan desa adat menjaga tradisi. “Kadang perlakuan masyarakat berbeda-beda di tiap desa adat. Ada desa yang sudah banyak mendapat pengaruh modern, ada juga desa tua yang tradisinya masih sangat kuat. Itu yang harus kami cek langsung di lapangan,” ujar Wica saat diwawancarai di kantornya, Jumat (6/3).
Perhitungan awal yang dilakukan BRIDA menunjukkan angka yang tidak kecil. Estimasi sementara menyebut biaya yang dikeluarkan masyarakat Bali untuk upacara adat dan keagamaan bisa mencapai sekitar Rp40 triliun setiap tahun.
Angka itu tidak hanya berasal dari upacara besar, tetapi juga dari ritual kecil yang dilakukan setiap hari. Salah satunya adalah penggunaan canang sari sebagai sarana persembahyangan harian.
Jika satu canang dihargai sekitar Rp600 dan rata-rata satu keluarga menggunakan sekitar 10 canang per hari, maka biaya yang dikeluarkan satu kepala keluarga mencapai sekitar Rp6.000 per hari. Dalam satu bulan, jumlahnya menjadi sekitar Rp180.000. Dan setahun kisarannya mencapai Rp2.160.000
Jika dikalikan dengan sekitar 1,8 juta kepala keluarga (KK) umat Hindu di Bali, nilai ekonominya menjadi sangat besar, yakni mencapai Rp3,88 triliun
“Belum lagi upacara-upacara besar seperti purnama, tilem, galungan, kuningan, hingga upacara keluarga. Itu belum semuanya kami hitung secara detail,” kata Wica.
Di Bali, kata Wica, upacara bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian, seluruh fase kehidupan selalu diiringi ritual adat dan agama.
Setiap desa adat juga memiliki kekhasan tersendiri dalam menjalankan tradisinya. Desa tua yang masih kuat menjaga pakem leluhur seringkali memiliki rangkaian upacara yang lebih panjang dan kompleks dibandingkan desa yang telah banyak terpengaruh modernisasi.
Perbedaan inilah yang membuat BRIDA Bali tidak bisa hanya mengandalkan perkiraan. Penelitian harus dilakukan langsung ke lapangan.
Karena itu, BRIDA berencana melibatkan akademisi dan mahasiswa untuk melakukan pendataan di berbagai desa adat di Bali. Melalui penelitian tersebut, pemerintah ingin mendapatkan gambaran yang lebih akurat mengenai beban ekonomi yang ditanggung masyarakat dalam menjaga tradisi.
Kajian ini juga menjadi bagian dari gagasan yang didorong oleh Gubernur Bali, Wayan Koster. Pemerintah Provinsi Bali ingin memastikan bahwa tradisi, adat, dan agama tetap terjaga di tengah perubahan zaman.
Menurut Wica, Bali memiliki karakter yang berbeda dibandingkan daerah lain di Indonesia karena budaya, adat, dan agama menyatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. “Bali ini berbeda dengan daerah lain karena adat, agama, dan budaya menyatu. Kalau tidak dijaga, Bali bisa saja menjadi sama seperti daerah lain yang indah tetapi tidak memiliki kekuatan budaya seperti Bali,” ujarnya.
Hasil penelitian tersebut nantinya akan digunakan sebagai dasar rekomendasi kepada pemerintah pusat agar ada dukungan pendanaan bagi desa adat di Bali. Dukungan tersebut bisa datang melalui anggaran pemerintah maupun kolaborasi dengan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Brida Bali menargetkan kajian ini dapat selesai dalam waktu 3 – 5 bulan. Dengan data yang kuat, kebijakan yang diambil pemerintah diharapkan benar-benar berbasis riset atau evidence-based policy.
Di tengah gemuruh pariwisata dan modernisasi, Bali tetap bertahan sebagai pulau yang hidup dengan tradisinya. Namun di balik setiap sesaji yang ditata dan setiap upacara yang digelar, ada pengorbanan besar yang ditanggung masyarakat.
Kini, untuk pertama kalinya, pengorbanan itu mulai dihitung secara serius. Bukan untuk mengurangi tradisi, melainkan untuk memastikan bahwa warisan leluhur itu tetap bisa dijaga oleh generasi Bali di masa depan. (Ketut Winata/balipost)










