
DENPASAR, BALIPOST.com – Sekaa Teruna Teruni (STT) Yowana Sawitra, Banjar Abian Timbul, Pemecutan Kelod, Denpasar, kembali menghadirkan karya ogoh-ogoh sarat pesan lingkungan pada perhelatan Kasanga Fest 2026. Tahun ini mereka mengusung karya bertajuk “Durtala”, yang menggambarkan kerusakan alam akibat kelalaian manusia.
Ketua STT Yowana Sawitra, I Ketut Gede Mertayasa di Kawasan Lapangan Puputan Badung, Jumat (6/3) mengatakan, ide karya tersebut muncul dari berbagai bencana alam yang belakangan terjadi di Bali, seperti banjir yang salah satunya dipicu oleh perilaku manusia yang kurang menjaga lingkungan, termasuk membuang sampah sembarangan.
“Belakangan ini kita sering melihat bencana seperti banjir di Bali. Itu tidak semata-mata karena alam, tetapi juga karena ulah manusia yang lalai menjaga lingkungan,” ujarnya.
Menurutnya, melalui karya ogoh-ogoh tersebut pihaknya ingin menyampaikan pesan agar masyarakat lebih peduli terhadap alam dan menjaga keseimbangan lingkungan.
Secara filosofi, karya Durtala terinspirasi dari ajaran yang berbunyi “Awya Parikosa Lawan Prajapati, Patinta Meparek”, yang bermakna larangan merusak alam semesta karena kehancuran akan mendekat bagi manusia yang mengabaikannya.
Dalam konsep cerita yang diangkat, air digambarkan sebagai anugerah kehidupan yang menghidupi sungai, sawah, dan peradaban manusia. Namun ketika manusia tidak lagi menjaga keseimbangan alam, air dapat berubah menjadi kekuatan yang membawa bencana.
Istilah Durtala sendiri dimaknai sebagai lapisan alam semesta yang mengalami kerusakan akibat kelalaian manusia. Dalam visualisasi ogoh-ogoh, kondisi tersebut digambarkan melalui simbol-simbol kosmis seperti Bedawang, penyangga dunia yang memikul beban berat akibat pembangunan yang tidak memperhatikan keseimbangan alam, serta Naga Antaboga, penjaga kesejahteraan yang kehilangan pijakan karena rusaknya harmoni bumi.
Air yang sejatinya merupakan Toya, sumber kehidupan, dalam kondisi tersebut berubah menjadi Tonya, simbol murka alam yang menghancurkan. Pesan yang ingin disampaikan melalui karya ini adalah bahwa bencana bukan semata-mata datang dari alam, melainkan juga dari keputusan manusia sendiri.
Berangkat dari gagasan tersebut, STT Yowana Sawitra mengangkat tema besar “Jala Sidhi Shuvita” yang bermakna pemuliaan air demi kesejahteraan kehidupan. Melalui karya ini mereka mengajak masyarakat untuk kembali menjaga harmoni dengan alam, termasuk mengembalikan fungsi jalur air, menata ruang secara bijak, dan menghormati keseimbangan lingkungan.
“Harapannya masyarakat bisa lebih peduli terhadap alam. Jika kita menjaga aliran air dan lingkungan dengan baik, maka air akan kembali menjadi sumber kesejahteraan, bukan bencana,” kata Mertayasa.
Proses pembuatan ogoh-ogoh dimulai sejak 25 Desember 2025 dan dikerjakan secara gotong royong oleh para anggota sekaa teruna hingga selesai menjelang penilaian. Dalam pembuatannya, mereka menggunakan bahan-bahan alami seperti rangka rotan, koran, lem kanji, serta kardus. Proyeksi pembuatan kurang lebih Rp100 jutaan.
Partisipasi tahun ini menjadi kali ketiga bagi STT Yowana Sawitra. Sebelumnya, pada tahun 2024 mereka meraih juara I tingkat Kecamatan Denpasar Barat, sementara pada 2025 berhasil meraih juara III dalam sistem lomba tarung bebas.
STT Yowana Sawitra sendiri dikenal sebagai salah satu sekaa teruna yang kerap menghadirkan karya ogoh-ogoh inovatif. Beberapa karya mereka sebelumnya antara lain “Agni Tandava” serta “Makara Wahana”, yang sempat menjadi salah satu ogoh-ogoh terbaik di Denpasar Barat.
“Tahun ini tentu harapannya bisa kembali berprestasi dan meraih juara,” ujarnya. (Suardika/balipost)










