Pengunjung Pasar Desa Adat Serangan saat membuang sampah organik ke teba modern yang ada di lokasi pasar. (BP/Win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Aroma sisa sayur dan buah yang dulu identik dengan sudut becek pasar, kini perlahan tergantikan bau tanah kompos yang lebih bersahabat. Di Pasar Desa Adat Serangan, sampah tak lagi sekadar dibuang, tetapi diproses dan bernilai rupiah.

Perubahan itu bermula dari penyerahan 10 unit Teba Modern oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID). Bantuan tersebut menjadi langkah konkret memperkuat pengelolaan sampah langsung dari sumbernya, yakni lapak pedagang.

Berbeda dari pola lama yang sepenuhnya bergantung pada pengangkutan ke TPA, Teba Modern menghidupkan kembali konsep teba, lubang sampah tradisional Bali, yang dimodernisasi sebagai sarana pengomposan alami. Sampah organik pasar seperti sisa sayur dan buah kini langsung dimasukkan ke lubang kompos untuk diolah menjadi pupuk.

Baca juga:  Pasar Badung dan Pasar Kumbasari Lumpuh

Kepala Pasar Desa Adat Serangan, I Wayan Suwarjaya, menyebut kehadiran teba modern mendorong kedisiplinan pedagang dalam memilah sampah sejak awal. “Dengan adanya teba ini, pedagang bisa langsung membuang sampah organik ke lubang kompos. Sementara sampah non-organik bisa dijual ke bank sampah,” ujarnya, Selasa (3/3).

Hal senada disampaikan Badan Pengawas Pasar Desa Adat Serangan, I Made Warse. Ia melihat perubahan perilaku mulai terbentuk. Pedagang kini lebih sadar memisahkan jenis sampah sebelum dibuang.

Baca juga:  Tak Pulang Sejak Selasa, Warga Wanagiri Ditemukan Lemas

Skema ini bukan hanya berdampak pada kebersihan pasar. Sampah plastik dan kertas yang disetorkan ke bank sampah setempat dikonversi menjadi saldo rupiah. Artinya, sampah non-organik tak lagi dipandang sebagai beban, melainkan peluang tambahan penghasilan.

Salah satu pedagang, Darmi, merasakan langsung manfaatnya. “Bagus, jadi tidak berserakan. Sampah bisa dipilah dan ada manfaatnya,” katanya.

Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy, menegaskan pasar tradisional memiliki posisi strategis sebagai ruang edukasi lingkungan. Menurutnya, solusi berkelanjutan harus berakar dari partisipasi masyarakat, bukan semata proyek sesaat.

Baca juga:  Harga Cabai Tembus Rp 75 Ribu Per Kilogram

Sebelumnya, pada 2025, BTID juga menyerahkan 19 unit Teba Modern melalui gerakan “Serangan Bersinar (Bersih, Indah, dan Asri)” kepada Desa Serangan. Dengan tambahan 10 unit di pasar, total 29 Teba Modern kini menopang pengelolaan sampah berbasis komunitas di kawasan tersebut.

Dari sudut pasar tradisional di Serangan, lahir pesan sederhana: ketika kearifan lokal dipadukan dengan sentuhan modern, sampah pun bisa berubah menjadi pupuk bahkan rupiah. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN