Calon penumpang pesawat melihat informasi jadwal keberangkatan di Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Minggu (1/3/2026). (BP/Antara)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Konflik bersenjata di wilayah Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran pecah. Situasi ini diprediksi akan memberikan tekanan hebat pada arus kunjungan wisatawan mancanegara, terutama di titik-titik vital seperti Kabupaten Badung.

Pelaku pariwisata di Bali kini mulai cemas akan kondisi pariwisata di Bali akibat adanya konflik di wilayah Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran. Pasalnya kondisi di wilayah Timur tengah dipastikan akan mempengaruhi pariwisata di Bali khususnya Badung.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, mengatakan dampak dari krisis di Timur Tengah sudah mulai terasa secara nyata. Gangguan pada rute penerbangan internasional menjadi indikator awal yang paling mengkhawatirkan. Hal ini terlihat dari adanya penundaan penerbangan dari Middle East atau negara-negara yang berada di Timur Tengah.

“Sangat berpengaruh (konflik) dengan pariwisata kita di Bali. Apalagi penerbangan internasional ada yang tertunda khususnya untuk di Middle East,” ujar Rai Suryawijaya saat dikonfirmasi Senin (2/3).

Baca juga:  Segera, Kawasan Suci Besakih Ditata

Meski volume wisatawan langsung dari Timur Tengah ke Bali tidak sebesar pasar Australia atau Tiongkok, Rai menekankan bahwa masalah utamanya terletak pada terganggunya persepsi keamanan global.

Kendati demikian, Rai Suryawijaya belum berani memastikan berapa persen konflik ini akan mempengaruhi Bali, namun dipastikan dampaknya pasti akan dirasakan. Dia mengakui kunjungan wisatawan pasti akan turun karena keamanan global terganggu.

“Sebenarnya kunjungan wisatawan dari Middle East ke Bali sih tidak begitu banyak. Namun karena keamanan global terganggu yang mengakibatkan semua terdampak. Tidak hanya di Indonesia, negara-negara lain mungkin mengingatkan masyarakatnya untuk antisipasi jika berlibur keluar negeri,” terangnya seraya menyebutkan ketidakpastian ini berisiko membuat target kunjungan meleset jauh dari angka normal.

“Kami mengimbau seluruh pelaku usaha untuk tetap waspada. Berdasarkan data terkini, tingkat hunian hotel sudah mulai menunjukkan tren negatif,” katanya.

Dampak serupa juga dirasakan oleh sektor penyewaan vila. Ketua Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA), Kadek Adnyana, mengungkapkan bahwa efek domino dari konflik ini telah mencapai pasar Eropa yang merupakan tulang punggung pariwisata berkualitas di Bali. Menurutnya tak sedikit wisatawan asing, khususnya Eropa.

Baca juga:  Bebas Biaya, Belasan Tahun Bina Anak Berkebutuhan Khusus

“Sangat berpengaruh, ada cancellation dari Eropa, kemudian yang dari Timur Tengah juga itu kan cancel, karena tidak bisa terbang ke sini (Bali -red). Jadi bookingan kita yang datang ini ya lumayan juga beberapa klien yang meng-cancel stay-nya sampai 30 persen,” ungkapnya.

Karena itu, pihaknya mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis dengan mengarahkan para pelaku usaha ke pasar-pasar alternatif yang tidak terdampak langsung oleh konflik tersebut. Pihaknya berharap, pemerintah memberikan gambaran terkait pasar pariwisata yang masih berpotensi dapat digarap, selain timur tengah.

“Kita harus konsentrasi sekarang ini pasar mana yang kira-kira perlu kita garap. Kalau memang pasar yang bermasalah ini kan yang Timur Tengah, kemudian Eropa. Nah, pemerintah yang lebih tahu kondisi mana yang kira-kira pasar yang masih potensial untuk digarap oleh pelaku pariwisata ini agar diarahkan,” terangnya.

Baca juga:  Jika PPKM Diperpanjang Lagi Per 2 Agustus, Ini Reaksi Pengusaha

Ia percaya bahwa pemerintah pusat maupun daerah memiliki data dan panduan yang lebih lengkap untuk menyelamatkan industri ini dari keterpurukan lebih dalam. Terlebih, pemerintah telah memiliki roadmap pariwisata yang dapat dioptimalkan. “Pemerintah sendiri sudah memiliki roadmap, ini yang boleh, ini yang tidak, ini yang potensial,” tegasnya.

Seperti diketahui, penyebab utama merosotnya angka kunjungan dari Eropa adalah ketergantungan pada hub penerbangan di Timur Tengah. Dampak dari konflik tersebut sudah terlihat dengan batalnya sejumlah penerbangan dari Bali ke sejumlah kawasan di Timur Tengah seperti Doha, Qatar, Dubai, dan Abu Dhabi.

Tiga kota ini juga menjadi transit wisatawan dari negara-negara Eropa. Penerbangan dari Inggris, Jerman dan negara Eropa lainnya dengan tujuan Bali, banyak transit ke bandara di tiga kota tersebut.

Dengan terganggunya rute-rute utama ini, akses menuju Bali menjadi lebih sulit dan mahal, yang pada akhirnya memaksa calon wisatawan untuk menunda atau membatalkan rencana perjalanan mereka ke Indonesia. (Parwata/balipost)

BAGIKAN