
DENPASAR, BALIPOST.com – Rektor Universitas Udayana (Unud), Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., menyatakan pihaknya telah menerima informasi awal terkait matinya ratusan mangrove endemik Bali di kawasan Benoa, Kota Denpasar.
“Kami baru dapat informasi dari Pak Nyoman Parta,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (23/2).
Menurutnya, kampus akan segera menindaklanjuti laporan tersebut dengan membentuk tim pengkaji untuk meneliti penyebab kematian mangrove. Tim akan melibatkan para ahli di bidang kehutanan, lingkungan pesisir, biologi, dan kelautan.
“Kami akan tindak lanjuti dengan membentuk tim pengkaji dari Unud yang memiliki keahlian terkait. Kami minta Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) untuk mengoordinasikan kajian ini,” jelasnya.
Kematian mangrove di kawasan Teluk Benoa ini mendapat perhatian luas. Dugaan sementara sempat mengarah pada kebocoran pipa milik PT Pertamina Patra Niaga yang beroperasi di sekitar kawasan tersebut. Namun perusahaan membantah keras isu tersebut.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad, menegaskan, hingga saat ini tidak ditemukan indikasi kebocoran pada jaringan pipa BBM di sekitar Teluk Benoa. Perusahaan mengklaim telah melakukan pengecekan internal dan inspeksi rutin pada jalur distribusi.
“Berdasarkan hasil monitoring dan pengecekan di lapangan, tidak terdapat kebocoran pipa maupun tumpahan BBM di area yang dimaksud. Operasional penyaluran berjalan normal,” katanya dalam keterangan resmi.
Pertamina Patra Niaga juga menyatakan komitmennya terhadap perlindungan lingkungan serta kesiapsiagaan dalam penanganan potensi insiden. Jika ditemukan indikasi pencemaran, perusahaan siap berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan investigasi bersama.
Sementara itu, I Nyoman Parta, anggota Komisi III DPR RI yang konsen terhadap isu lingkungan hidup di Bali, menekankan pentingnya kajian ilmiah komprehensif. Ia menegaskan fungsi mangrove sangat vital bagi ekosistem pesisir Bali.
“Hutan mangrove berperan sebagai penahan abrasi, penyerap karbon, habitat biota laut, hingga pelindung kawasan pesisir dari dampak gelombang ekstrem dan perubahan iklim. Kami harap Unud bisa memberikan kajian, sehingga kita tahu siapa penyebab di balik matinya ratusan mangrove itu,” ujarnya, Senin (23/2).
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia memiliki sekitar 3,36 juta hektare hutan mangrove, terbesar di dunia. Bali menjadi salah satu wilayah dengan ekosistem mangrove penting di kawasan selatan, dengan Teluk Benoa sebagai kantong utama yang juga berfungsi sebagai penyangga kawasan pariwisata.
Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan mangrove ditemukan mati di sejumlah titik pesisir Benoa. Selain dugaan kebocoran pipa BBM, sejumlah pihak juga menyoroti kemungkinan faktor lain seperti perubahan kualitas air, pencemaran limbah, hingga gangguan aktivitas di sekitar kawasan pesisir.
Hasil kajian tim Unud nantinya diharapkan menjadi dasar rekomendasi kebijakan penanganan serta langkah pemulihan ekosistem mangrove di Teluk Benoa agar kejadian serupa tidak terulang kembali. (Ketut Winata/balipost)










