
GIANYAR, BALIPOST.com – Suasana duka menyelimuti Puri Agung Gianyar dan masyarakat Kabupaten Gianyar, Sabtu siang (21/2). Anak Agung Gde Agung Bharata, SH, Bupati Gianyar ke-9 yang di akhir masa hidupnya menempuh jalan spiritual sebagai Ida Bhagawan Blebar, mengembuskan napas terakhirnya di RSUD Sanjiwani Gianyar pukul 13.36 WITA.
Ida Bhagawan berpulang dalam usia 76 tahun 8 bulan setelah menjalani perawatan intensif akibat kondisi kesehatan yang menurun dalam satu bulan terakhir. Faktor usia dan riwayat penyakit jantung menjadi penyebab menurunnya daya tahan tubuh Ida Bhagawan.
Sosok almarhum bukan hanya sekadar pemimpin daerah, melainkan figur yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk negara. Rekam jejaknya mencakup Kepala Istana Kepresidenan Tampaksiring (1997–2003) dan Bupati Gianyar (selama dua periode).
Yang membuat perjalanan hidup almarhum begitu istimewa adalah keputusannya setelah lengser dari jabatan bupati. Almarhum memilih melepaskan segala atribut keduniawian dan menjalani prosesi Madwijati menjadi seorang Sulinggih (Pendeta).
Sebagai Ida Bhagawan Blebar, ia mendedikasikan sisa hidupnya untuk penyucian diri dan mendalami Weda, sebuah transisi mulia dari pemimpin politik menjadi penuntun spiritual.
Kerabat Puri, Drh. Anak Agung Gde Alit Asmara didampingi adik almarhum yang juga Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun menyampaikan layon beliau disemayamkan di Puri Agung Gianyar. Sesuai rencana layon tiba di Pura Agung Gianyar, Sabtu (21/2) Pukul 17.00 WITA.
Upacara palebon dijadwalkan 7 Maret 2026 di Setra Beng. Rangkaian dimulai 3 Maret dengan mesiram dan melelet, dilanjutkan munggah ke tumpang salu saat Purnama, hingga puncak palebon digelar.
Prosesi adat telah dipersiapkan sebagai bentuk penghormatan atas statusnya sebagai Sulinggih. Prosesi PAlebon tidak akan menggunakan Bade Nagabanda selayaknya keturunan raja pada umumnya, melainkan menggunakan Padma dan Lembu Putih, simbol kembalinya seorang suci ke hadapan Sang Pencipta. (Wirnaya/balipost)










