
DENPASAR, BALIPOST.com – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, memastikan hingga saat ini Bali belum pernah menerima bantuan vaksin African Swine Fever (ASF) untuk babi.
“Belum ada masuk ke Bali, belum pernah mendapat bantuan vaksinasi ASF untuk babi. Yang selama ini kita dapatkan adalah vaksin PMK untuk sapi dan itu sedang berjalan,” ujarnya saat diwawancara, Kamis (19/2).
Sunada menjelaskan, selain vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Bali juga menerima vaksin Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit kulit pada sapi. Tahap pertama Bali memperoleh 400 dosis, kemudian disusul 6.000 dosis.
Kini, melalui dukungan anggota DPRD Bali, pihaknya telah mengusulkan vaksin ASF ke pemerintah pusat dan telah mendapat persetujuan dari Kementerian Pertanian. Namun, jumlah dosis yang akan diterima masih menunggu kepastian.
Diungkapkan, populasi babi di Bali pada 2025 tercatat meningkat menjadi sekitar 1,2 juta ekor. Dengan jumlah tersebut, kebutuhan vaksin diperkirakan mencapai sekitar 1 juta dosis agar perlindungan optimal bisa diberikan.
Terkait penyakit babi, Sunada mengungkapkan beberapa kasus sempat terjadi. Di Kabupaten Buleleng, ditemukan 30 ekor babi terserang diare atau diskulera akibat pemberian pakan mentah yang tidak diolah dengan baik. “Sudah kita turun, kita cek, dan tangani dengan baik,” jelasnya.
Selain itu, kasus hog cholera juga sempat ditemukan di Kabupaten Gianyar.
Untuk PMK, Sunada mengungkapkan dua kabupaten sempat terdampak, yakni Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Buleleng.
Di Jembrana, kasus meningkat dari lima ekor menjadi 31 ekor, namun telah ditangani melalui vaksinasi dan pemotongan bersyarat. “Astungkara tidak berkembang. Di Buleleng hanya dua ekor dan sudah tertangani,” katanya.
Sementara untuk rabies, pada 2026 ini belum ada kasus kematian akibat gigitan anjing. Pada 2025, capaian vaksinasi rabies mencapai 85,51 persen dari total populasi sekitar 600 ribu ekor anjing.
Pemprov Bali juga tengah melaksanakan role model vaksinasi rabies di Kabupaten Bangli bekerja sama dengan Sanbi Farma guna menguji ketahanan (titer) vaksin dalam tubuh anjing. “Kalau hasilnya bagus, kita rencanakan menggunakan vaksin tersebut secara lebih luas,” imbuhnya.
Ketua Umum BPD HIPMI Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih atau yang akrab disapa Ajus Linggih, menyampaikan langsung keluhan para peternak babi Bali kepada Menteri Pertanian RI dalam acara HIPMI pada Sidang Dewan Pleno di Makassar, Minggu (15/2).
Dalam forum tersebut, Ajus Linggih “curhat” terkait tidak adanya bantuan vaksin ternak, khususnya vaksin babi, bagi peternak di Bali. Padahal, sapi dan ternak lainnya sudah mendapatkan vaksin gratis khususnya ASF.
Ia menegaskan, peternak babi lokal saat ini menghadapi tekanan berat, mulai dari ancaman penyakit hingga anjloknya harga akibat masuknya babi dari luar daerah.
“Saya meminta agar impor babi dihentikan karena harga babi sedang menurun. Peternak babi kita terasa sedikit dianaktirikan. Selain itu, saya juga meminta agar peternak babi Bali bisa mendapatkan vaksin ASF,” ungkapnya. (Ketut Winata/balipost)









