
DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat sebanyak 495 kejadian kebencanaan terjadi di seluruh wilayah Bali sepanjang Januari 2026. Data tersebut disampaikan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bali, I Gede Teja, Rabu (11/2).
Ia menyebut sebagian besar kejadian dipicu oleh faktor cuaca dan kondisi lingkungan pada puncak musim hujan.
Jenis bencana paling dominan adalah pohon tumbang dengan 214 kejadian, disusul tanah longsor sebanyak 106 kejadian, serta cuaca ekstrem sebanyak 85 kejadian. Selain itu, tercatat pula kebakaran gedung dan permukiman sebanyak 12 kejadian, banjir 11 kejadian, senderan jebol 7 kejadian, jalan jebol 2 kejadian, gelombang pasang dan abrasi 2 kejadian, serta bangunan rusak 29 kejadian.
BPBD Bali juga mencatat 27 kejadian lain-lain yang meliputi evakuasi jenazah, penanganan korban terseret arus, penemuan jenazah, penanganan pohon membahayakan, kebakaran kandang ternak, pencarian orang hilang, hingga evakuasi pendaki.
Dari seluruh rangkaian kejadian tersebut, dilaporkan dua orang meninggal dunia dan dua orang mengalami luka-luka. Estimasi kerugian material akibat bencana mencapai sekitar Rp11,97 miliar.
Kalaksa BPBD Bali, I Gede Teja mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Terutama terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan petir. Warga juga diminta menghindari berteduh di bawah pohon, baliho, maupun bangunan yang tidak kokoh, serta memastikan saluran air di lingkungan sekitar tetap bersih dan tidak tersumbat.
Selain itu, masyarakat di wilayah perbukitan dan tebing diingatkan untuk mewaspadai potensi tanah longsor, menjaga kondisi kesehatan tubuh, serta rutin memantau informasi resmi dari instansi berwenang.
“Situasi saat ini murni dipengaruhi musim hujan, tidak ada tambahan-tambahan bahaya seperti siklon atau bibit siklon yang memperparah musim hujan. Tetapi Bali masuk pada sasih kaulu. Jadi ada tambahan bahaya potensi angin,” ungkapnya.
Teja menegaskan kesiapsiagaan dan kepatuhan masyarakat terhadap imbauan menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko serta dampak bencana selama musim hujan berlangsung.
Sementara itu, Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar mengeluarkan peringatan dini cuaca di wilayah Bali yang berlaku hingga 13 Februari 2026. Peringatan ini dikeluarkan seiring masih tingginya potensi hujan dan angin kencang pada puncak musim hujan.
Dalam peringatan dini hujan tanggal 12 Februari 2026, BMKG menetapkan status waspada atau hujan sedang hingga lebat untuk wilayah Bangli, Jembrana, Klungkung, dan Gianyar. Sementara status Siaga atau hujan lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di Buleleng, Tabanan, Denpasar, Badung, dan Karangasem. Untuk status awas atau hujan sangat lebat hingga ekstrem, BMKG menyatakan nihil.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini angin kencang pada 12 Februari 2026 yang berpotensi melanda wilayah Badung, Klungkung, dan Karangasem.
Selanjutnya, pada peringatan dini hujan tanggal 13 Februari 2026, status waspada hujan sedang hingga lebat meluas di Bangli, Jembrana, Badung, Denpasar, Gianyar, Klungkung, dan Tabanan. Adapun status Siaga hujan lebat hingga sangat lebat diperkirakan terjadi di wilayah Buleleng dan Karangasem. Sementara status Awas kembali dinyatakan nihil.
Untuk angin kencang pada 13 Februari 2026, BMKG mencatat potensi terjadi di wilayah Badung dan Klungkung.
Kepala Balai BMKG Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho, Rabu (11/2) menjelaskan, peringatan dini ini menunjukkan nilai akumulasi curah hujan harian tertinggi dalam satu kabupaten. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap dampak lanjutan seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, serta gangguan aktivitas akibat angin kencang.
Pihaknya mengingatkan masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG dan meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah rawan bencana hidrometeorologi selama periode musim hujan. (Ketut Winata/balipost)










