Penanganan darurat dengan memasang kesdam (bendungan sementara) di Bendung Sangsang Desa Lebih Gianyar.  (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Bendung Sangsang yang terletak di Desa Lebih, Kecamatan Gianyar, kembali mengalami kerusakan fatal. Jebolnya bendungan peninggalan era kolonial ini menyebabkan aliran sungai Pakerisan terhenti total, dan memicu ancaman kekeringan bagi puluhan hektar lahan pertanian serta kerugian sektor perikanan warga setempat.

Menanggapi situasi darurat tersebut, Pemerintah Kabupaten Gianyar, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) langsung mengambil langkah strategis. Pada Kamis (5/2), tim gabungan dari unsur TNI, Polri, perangkat desa, dan krama subak telah turun ke lokasi Bendung Sangsang atau Bendung Delod Kepuh untuk melakukan penanganan darurat dengan memasang kesdam (bendungan sementara).

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Gianyar, Ir. I Dewa Gede Putra Hartawan, melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Bina Jasa Konstruksi Dinas PUPR Kabupaten Gianyar, Dr. Ir. I Made Dwipa Arta, ST., MT., Minggu (8/2) menyatakan bahwa pihaknya tidak hanya fokus pada penanganan sementara, tetapi juga solusi jangka panjang. “Seizin Bapak Kadis PUPR, kami sudah memanggil konsultan perencana untuk segera melakukan survey lapangan. Tujuannya adalah membuat perencanaan pembangunan bendung baru,” ujar Made Dwipa Arta.

Baca juga:  Hadir di Ambon, Grab Jangkau 100 Kota di Indonesia

Ia menambahkan proyek ini akan diupayakan melalui jalur pendanaan pusat. “Rencananya akan kami usulkan ke Kementerian Pekerjaan Umum melalui mekanisme Inpres No. 2 Tahun 2025 agar bisa mendapatkan pendanaan dan mulai dikerjakan tahun ini juga,” tegasnya.

Kerusakan bendungan ini berdampak signifikan pada berbagai sektor ekonomi  di Desa Lebih. Puluhan hektare sawah yang baru berusia satu pekan setelah tanam terancam mati kekeringan. Budidaya lele milik warga terancam gagal panen. Bahkan, Wakil Subak Sungsang, I Made Sedana Yoga (yang akrab disapa Lojor), terpaksa memanen dini ikannya karena suplai air terhenti.

Baca juga:  Naik Tipis, UMK 2018 Tabanan

Warga kehilangan akses air sungai yang biasanya digunakan untuk aktivitas mencuci dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Menurut Made Sedana Yoga, bendungan ini memang sudah berulang kali diperbaiki secara swadaya, namun selalu kalah oleh debit air yang tinggi karena faktor usia bangunan yang sudah tua. “Bendungan ini memiliki peran vital, termasuk adanya terowongan air bawah tanah sepanjang 1-2 kilometer yang menyuplai wilayah kami,” jelasnya.

Baca juga:  Irigasi Jebol, Puluhan Hektar Sawah Terancam Kekeringan

Sementara itu, Kapolsek Gianyar, Kompol Made Adi Suryawan, menegaskan keterlibatan Polri dan TNI dalam penanganan bendungan ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap program prioritas nasional.

“Sinergi ini selaras dengan program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Kami ikut hadir untuk membantu penanganan sementara agar dampak ke petani tidak semakin meluas,” ungkap Kompol Adi Suryawan.

Masyarakat kini berharap usulan pembangunan bendungan baru ke pemerintah pusat dapat segera terealisasi, mengingat struktur bangunan lama sudah tidak layak lagi menahan beban debit Sungai Pakerisan saat cuaca ekstrem. (Wirnaya/balipost)

 

BAGIKAN