
SINGARAJA, BALIPOST.com – Cuaca ekstrem yang melanda Kecamatan Busungbiu, mengakibatkan tembok penyengker serta sejumlah bangunan di Pura Yeh Sakti, Desa Pucaksari, jebol sepanjang lebih dari 10 meter. Peristiwa ini dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama berjam-jam. Pasca Kejadian, warga setempat langsung melakukan bersih-bersih dan berharap pemerintah segera memberikan bantuan penanganan.
Bendesa Adat Pucaksari, Made Widana, ditemui Jumat (16/1), menjelaskan bahwa hujan deras mulai mengguyur wilayahnya sejak Kamis (15/1) siang. Jebolnya tembok penyengker pertama kali diketahui oleh kelian banjar setempat. Tak hanya tembok penyengker, Balai Pawedan di area pura juga ikut tergerus derasnya aliran air.
Widana menyebutkan, luapan air berasal dari seberang pura yang merupakan tukad mati. Namun, derasnya debit air saat hujan membuat aliran tersebut meluap dan menghantam tembok penyengker pura hingga roboh. “Debit air sangat besar sehingga tembok penyengker tidak mampu menahan tekanan air,” jelasnya.
Usai kejadian, krama adat langsung dikerahkan untuk bergotong royong membersihkan area pura. Ketebalan lumpur yang terbawa arus bahkan mencapai setinggi lutut orang dewasa.
“Di madya mandala tidak ada bangunan yang rusak, namun dipenuhi lumpur. Sementara di utama mandala, penyengker berbentuk huruf L roboh seluruhnya karena posisinya dekat sungai. Ada bangunan yang rusak, termasuk Balai Pawedan yang terseret arus,” ungkap Widana.
Ia menambahkan, Pura Yeh Sakti merupakan salah satu Pura Kahyangan di Desa Pucaksari yang memiliki peran penting bagi masyarakat. Pura ini juga kerap didatangi pemedek dari berbagai daerah untuk melakukan persembahyangan dan pelukatan, mengingat keberadaan sejumlah mata air suci di kawasan tersebut.
“Kami memiliki sembilan Pura Kahyangan, termasuk Pura Yeh Sakti ini. Banyak pemedek dari luar desa yang tangkil untuk persembahyangan dan pelukatan,” imbuhnya.
Atas kejadian ini, pihak desa adat berharap pemerintah daerah segera turun tangan memberikan bantuan, terutama untuk renovasi dan pemulihan bangunan pura agar aktivitas keagamaan dapat kembali berjalan normal. (Yudha/balipost)










