
BANGLI, BALIPOST.com – Desa Adat Jeruk Mancingan, di Kecamatan Susut, menyelenggarakan perayaan Bulan Bahasa Bali, pada Minggu (1/2). Kegiatan tersebut menjadi bukti nyata komitmen desa dalam memuliakan bahasa, aksara, dan sastra Bali di tengah arus modernisasi.
Rangkaian acara diawali dengan sesi pembinaan dan pengenalan aksara Bali bagi anak-anak tingkat Sekolah Dasar (SD). Dilanjutkan dengan kegiatan Cerdas Cermat berbahasa Bali. “Inovasi cerdas cermat berbahasa Bali ini diluar juknis yang diberikan oleh pemerintah,” ungkap Bendesa Desa Adat Jeruk Mancingan, I Wayan Perwira Duta.
Dia menjelaskan cerdas cermat ini dikemas secara interaktif untuk memicu minat anak-anak dalam menghafal kosakata bahasa Bali, seperti nama-nama bagian tubuh. “Melalui cerdas cermat ini, kami ingin mereka tertarik menghafal bahasa Bali dengan cara yang menyenangkan,” ujar Perwira Duta.
Selain cerdas cermat, kegiatan juga diisi dengan lomba Nyurat Aksara Bali tingkat SD dan Pidarta Bahasa Bali tingkat Yowana, usia SMP hingga 35 tahun. Bulan bahasa Bali tahun ini juga diisi pementasan Tari Condong Mesatya. Dikatakan tak hanya peserta, masyarakat setempat pun tampak sangat antusias menyaksikan rangkaian acara ini sebagai sarana hiburan edukatif.
Kesuksesan acara bulan bahasa ini, kata Perwira Duta tidak lepas dari kerjasama desa adat dengan Penyuluh Bahasa Bali, guru-guru di lingkungan Banjar, serta mahasiswa yang sedang berada di desa. Program ini didanai melalui anggaran Semesta Berencana, yang mewajibkan pelestarian budaya di tingkat desa. “Kami sangat mengapresiasi program pemerintah provinsi Bali ini. Selain himbauan, kami juga didukung pendanaan yang memadai. Ini sangat bermanfaat agar anak-anak tidak lupa dengan bahasa ibu mereka. Astungkara di desa Adat Jeruk Mancingan, bahasa Bali masih digunakan oleh anak-anak dalam pergaulan sehari-hari,” ujarnya.
Agar momentum ini tidak berhenti begitu saja, Desa Adat Jeruk Mancingan akan melanjutkan pembinaan melalui Program Pasraman. Kegiatan pasraman merupakan program wajib desa adat yang dilaksanakan saat libur sekolah. Nantinya, anak-anak tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga praktek pelestarian adat seperti membuat piranti upakara (sarana upacara).
Perwira Duta berharap melalui Bulan Bahasa Bali yang digelar setiap bulan Februari, bahasa, aksara, dan sastra Bali tetap ajeg dan tidak punah. (Dayu Swasrina/balipost)










