Pemkab Badung terus berupaya mengatasi sampah kiriman. Bahkan, pemerintah setempat telah menjalin kerja sama dengan TNI guna mengatasi masalah sampah secara sinergi.(BP/istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung merespons serius sorotan Presiden Republik Indonesia terkait persoalan sampah laut yang sempat memenuhi kawasan Pantai Kuta. Sorotan tersebut dinilai wajar mengingat Bali masih menjadi destinasi wisata nomor satu dunia dengan kontribusi besar terhadap devisa negara.

“Bali tetap menjadi nomor satu destinasi wisata di seluruh dunia itu, bahkan mengalahkan Inggris, Perancis, kan begitu. Nah, divisa pun besar dari sana, dan 50% dari pariwisata ada di Bali. Nah, ini yang menjadi concern beliau,” ungkap Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Badung, Anak Agung Dalem, pada Rabu (4/2).

Dia menegaskan bahwa pantai merupakan “warung” utama pariwisata Badung. Karena itu, kebersihan pantai menjadi prioritas utama pemerintah daerah.

Baca juga:  Dua Desa Adat Sepakat Tangani Masalah Sampah di Desa Saba

“Di Badung kita menganggap pantai ini sudah menjadi warungnya Badung, bayangkan kesejahteraan masyarakat Badung dan Bali secara umum kan dapat dari pariwisata. Pariwisata itu warungnya pantai, kan. Berkaitan dengan sampah pantai itu musiman,” jelasnya.

Ia menerangkan, sampah laut terjadi setiap musim muson barat, yakni sekitar September hingga Maret. Sampah tersebut terbawa arus laut dari wilayah padat penduduk di Jawa dan Sumatera sebelum akhirnya terdampar di Pantai Kuta, Jimbaran, dan Kedonganan.

“Dan tentu ketika mereka tidak tertib dengan sampah di darat, dia akan hanyut ke sungai, kemudian ke laut, kemudian diangkut ke Bali,” katanya.

DLHK Badung telah menyiapkan langkah cepat dengan mengerahkan 12 alat berat di kawasan pantai. Begitu sampah laut muncul, petugas langsung melakukan pembersihan, pengumpulan, dan pengangkutan keluar pantai.

Baca juga:  Buang Sampah Tak Sesuai Jadwal Bisa Dipenjara

Dalam satu musim, Badung mampu mengangkut hingga 1.500 ton sampah dari SDU. Saat ini, masih terdapat sekitar 3.000 ton sampah yang harus ditangani, dengan potensi bertambah hingga Maret. Rata-rata setiap tahun, Bali menerima kiriman sampah laut antara 4.000 hingga 7.000 ton, dengan rekor tertinggi terjadi pada 2021.

Untuk tenaga lapangan, DLHK Badung mengerahkan 300–350 personel penyapuan setiap hari, dan bisa ditingkatkan hingga 800 orang saat kondisi ekstrem. Upaya ini diperkuat kolaborasi dengan berbagai NGO seperti Blue Ocean, Sobat Pantai, Sungai Watch, Eco Bali, dukungan hotel, perusahaan, hingga TNI dan Polri.

Baca juga:  Sidak Dewan Temukan Jarak Toko Modern Dekat Pasar Tradisional di Susut

Ke depan, DLHK Badung menekankan pentingnya pengolahan sampah secara terpadu. Pembangunan PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik) dinilai menjadi kunci agar sampah laut bisa diolah menjadi energi.

“Kemudian masyarakat, pastikan mengolah sampah di rumah dengan memilah, buatlah kompos secara swadaya, jual ke bank sampah-sampah yang bernilai, residu saja yang kemudian harus dibuang ke TPA. Ini akan menjadi kunci bagaimana Bali tetap bersih,” tegasnya.

Saat ini, sampah pantai didominasi kayu organik sekitar 70 persen, sementara 30 persen merupakan sampah plastik. Kayu gelondongan diolah menggunakan wood chipper untuk dijadikan bahan kompos dan urugan, sementara plastik bernilai dikelola bersama NGO, dan sisanya dibuang ke TPA.(Parwata/balipost)

BAGIKAN