
DENPASAR, BALIPOST.com – Penerapan intelligent transport system (ITS) atau sistem manajemen transportasi cerdas terus dikembangkan di Denpasar. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kelancaran dan keselamatan lalu lintas di wilayah kota. Penerapan ITS ini pun memiliki dasar hukum yakni Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 76 Tahun 2021 tentang Sistem Manajemen Transportasi Cerdas di Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Sekretaris Dishub Kota Denpasar, I Dewa Ketut Adi Pradnyana saat dikonfirmasi pada Jumat (30/1) mengungkapkan, pengembangan teknologi ini telah dirancang sejak tahun 2011 melalui penyusunan grand design area traffic control system (ATCS). Dalam perjalanannya, sistem ini mengalami ekspansi yang signifikan.
“Pada tahap awal, sistem ini mencakup sekitar 38 simpang dan terus dikembangkan secara bertahap hingga kini telah terpasang di 56 simpang,” terangnya.
Keberadaan ATCS menjadi urat nadi dari penerapan ITS di Denpasar, di mana kontrol lampu lalu lintas dilakukan secara terpusat melalui control room. Infrastruktur ini juga diperkuat dengan kamera pengawas (CCTV) di tiap titik simpang serta fitur public announcer yang berfungsi sebagai media edukasi dan peringatan langsung bagi pengguna jalan yang melanggar aturan.
Sejauh ini, dari 11 sub-kegiatan ITS yang diatur dalam regulasi nasional, Pemkot Denpasar telah berhasil mengoperasikan empat pilar utama. Selain ATCS, integrasi pembayaran non-tunai telah diterapkan pada layanan angkutan umum seperti Trans Metro Dewata dan armada bus listrik di Sanur yang dapat dipantau melalui aplikasi real-time. Di sisi lain, Dishub juga telah memasang vehicle detector di titik-titik strategis dan perbatasan kota untuk menghitung volume kendaraan secara akurat.
Dewa Adi menjelaskan, data dari sensor kendaraan tersebut sangat krusial dalam menentukan kebijakan durasi lampu hijau. “Data dari kamera tersebut digunakan untuk mengatur durasi lampu hijau di persimpangan. Jika arus kendaraan dari satu arah lebih padat, waktu lampu hijau dapat dioptimalkan,” jelasnya.
Sinergi ini juga mencakup penerapan parkir non-tunai bekerja sama dengan Perumda Bhukti Praja Sewakadarma (BPS) serta dukungan penuh terhadap sistem electronic traffic law enforcement (ETLE) oleh kepolisian.
Meski infrastruktur terus tumbuh, tantangan besar yang dihadapi adalah sinkronisasi layanan dari hulu ke hilir. Dewa Adi menyoroti pentingnya konektivitas transportasi dari kawasan permukiman menuju titik transit seperti halte hingga ke Bandara.
“Secara sistem sebenarnya sudah terintegrasi, namun konektivitas antar layanan masih perlu terus ditingkatkan agar masyarakat semakin nyaman menggunakan transportasi umum,” ungkapnya.
Menatap masa depan, orientasi pengembangan ITS di Denpasar akan mengarah pada sistem otomatisasi penuh. Dengan pemanfaatan sensor canggih, durasi lampu lalu lintas nantinya diharapkan mampu menyesuaikan diri secara otomatis tanpa campur tangan manual petugas sehingga efisiensi waktu tempuh masyarakat dapat terus dioptimalkan. (Widiastuti/bisnisbali)










