
DENPASAR, BALIPOST.com – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyusun ulang indikator Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan ratusan hotel di Bali masih berpredikat merah.
“Terkait pariwisata berkelanjutan tahun lalu kita dibombardir pertanyaan pada komponen penilaian yang dilakukan Kementerian LH, tapi sudah kami sepakati bahwa Proper itu akan disusun ulang kembali,” kata Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar Rizki Handayani.
Rizki dalam acara Pengukuhan Pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali di Denpasar, Jumat (23/1), mengatakan tahun ini indikator pertanyaan pada Proper akan disusun bersama oleh Kemenpar dan Kementerian LH dengan mengidentifikasi apa saja yang mesti dinilai dan dapat dihilangkan.
“Pak Menteri LH bilang diserahkan kepada Kementerian Pariwisata untuk menyusun kembali, tapi tentang pengelolaan sampah di hotel yang diwajibkan,” ujarnya.
Untuk diketahui Proper yang dinilai Kementerian LH tahun 2025 menilai tentang penanganan sampah, pengendalian pencemaran air, pengelolaan bahan berbahaya dan beracun, pengelolaan limbah B3, dan pengendalian pencemaran udara.
Hasil penilaian terhadap 229 hotel saat itu masih berpredikat merah, sehingga akomodasi di Bali memiliki PR untuk memperbaiki indikator yang dinilai.
Kemenpar kemudian sepakat dengan indikator pengelolaan sampah yang wajib ada, namun mereka akan lebih merinci pengelolaan sampah yang dimaksud karena tantangan bagi pihak hotel atau akomodasi pariwisata juga tidak mudah.
“Wajibnya oke, tapi bagaimana wajibnya itu dilaksanakan itu yang perlu kita komunikasikan, kami menyadari isu sampah ini isu bersama dan sampah di industri pariwisata perlu dikelola,” kata Rizki.
Kementerian Pariwisata juga menyadari ke depan keberhasilan hotel mengelola limbah juga akan menjadi nilai tambah di mata wisatawan.
Sebab, tren menunjukkan wisatawan memberi ketertarikan pada pariwisata berkelanjutan.
“Ini sebenarnya menjadi salah satu citra dari hotel tersebut, namun demikian kita juga punya tantangan, semua pasti punya tujuan dan visi sama tapi bagaimana melaksanakannya di tingkat operasional,” kata Rizki.
Selain mendorong pariwisata berkelanjutan lewat penilaian Proper, Kementerian Pariwisata juga menyisipkan sektor keamanan dan keselamatan wisatawan sebagai indikator yang penting untuk dipenuhi Bali.
Menurut Rizki, keselamatan wisatawan juga berpengaruh terhadap citra pariwisata Bali di mata dunia, begitu pula kaitannya dengan investasi.
Jika citra Bali di mata dunia terus meningkat maka investasi yang baik dan berdampak akan masuk dan semakin menambah devisa negara karena saat ini industri pariwisata menduduki peringkat keempat penyumbang devisa tertinggi. (kmb/balipost)










