Industri kerajinan perak di Desa Celuk, Gianyar, dihadapkan lonjakan harga bahan baku yang drastis dan fluktuatif. (BP/istimewa)

​GIANYAR, BALIPOST.com – Industri kerajinan perak di Desa Celuk, Gianyar, kini berada di titik krusial. Lonjakan harga bahan baku yang drastis dan fluktuatif memaksa para perajin memutar otak agar dapur produksi tetap mengepul di tengah margin keuntungan yang kian menipis.

Salah satu perajin perak asal Celuk, Kadek Ganda Ismawan, Senin (19/1), mengatakan, ​menghadapi situasi sulit ini, perajin menerapkan strategi bertahan. Para perajin melakukan berbagai upaya kreatif untuk tetap kompetitif.

Dijelaskannya, beberapa langkah taktis yang diambil, mencakup efisiensi desain dengan memproduksi perhiasan dengan bobot yang lebih ringan untuk menekan harga pokok produksi (HPP). Diversifikasi logam dengan mulai menggunakan bahan alternatif yang lebih terjangkau seperti kuningan dan tembaga untuk menjangkau segmen pasar menengah ke bawah.

Baca juga:  Dugaan Korupsi di LPD Desa Adat Belumbang, 1 Tersangka Ditetapkan dan Ditahan

​Inovasi Layanan dengan membuka jewelry making class (kelas perhiasan) sebagai pengalaman wisata, serta menerima pesanan kustom sesuai keinginan pelanggan. Selain itu, digitalisasi dengan tetap gencar melakukan promosi melalui media sosial dan mengikuti berbagai pameran.

​Mengingat ancaman pengangguran yang menghantui sektor ini, pihak desa dan perajin mendesak pemerintah untuk segera turun tangan. “Perajin meminta pemerintah menjamin penyediaan bahan baku dengan harga standar agar mampu bersaing secara global,” tegasnya.

Baca juga:  Status Awas, BNPB Larang Warga Beraktivitas Hingga Radius 12 Kilo dari Gunung Agung

​Perbekel Desa Celuk sekaligus Ketua Asosiasi Perak Gianyar, I Nyoman Rupadana mengungkapkan kekhawatirannya atas ketidakstabilan harga perak di pasar. Berdasarkan data di lapangan, kenaikan harga terjadi sangat signifikan dalam waktu singkat.

“Pada Oktober 2025, harga perak masih berkisar Rp17.000 per gram. Namun, memasuki awal Desember, harga melonjak ke Rp35.000, dan saat ini bahkan telah menembus Rp40.000 per gram,” ujar Rupadana.

​Kondisi ini menyebabkan banyak pelanggan luar negeri menunda pesanan karena ketidakpastian harga. Rupadana juga menyoroti ironi di mana pelanggan internasional mengeluhkan harga bahan baku di Indonesia yang lebih mahal dibandingkan pasar internasional, padahal Indonesia memiliki kekayaan tambang perak yang besar.

Baca juga:  Creative Fun Walk Bali Digifest, Puluhan Ribu Masyarakat Tabanan Sambut Gubernur Koster

Rupadana berharap pemerintah serius menangani rantai pasok melalui program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sehingga PT Antam dapat menyuplai bahan baku langsung ke desa tanpa melalui mata rantai distribusi yang panjang. “Harapan kami, pemerintah memberikan perhatian serius karena keluhan serupa juga dirasakan perajin di daerah lain seperti Jogjakarta, Lumajang, hingga Mojokerto, jangan sampai warisan budaya dan ekonomi ini mati karena kendala bahan baku,” pungkas Rupadana. (Wirnaya/balipost)

BAGIKAN