
DENPASAR, BALIPOST.com – Meski jadwal Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung libur, antrean truk untuk membuang sampah tetap panjang. Hal tersebut nampak pada Rabu (14/1).
Antrean truk untuk membuang sampah di TPA Suwung memang tidak pernah surut.
Salah seorang sopir truk saat ditemui di lokasi, Pak Rian mengaku, telah membawa truknya ke TPA Suwung sejak Selasa malam sekitar pukul 22.00 Wita. Pria yang merupakan pihak swakelola di Wilayah Sesetan ini memarkirkan truknya untuk dapat masuk ke TPA Suwung pada Kamis ini (15/1).
Dia mengaku, harus mengangkut sampah masyarakat setiap hari, mengingat masyarakat telah melakukan pembayaran jasa kepada swakelola. Namun demikian kondisi di TPA Suwung yang harus mengantre membuat pihaknya terkendala. “Kalau tidak diambil setiap hari, komplin masyarakat. Tapi mereka tidak tahu kalau kondisi TPA seperti ini,” ujarnya.
Rian mengatakan, sopir bisa mengantri hingga 4 hari di TPA Suwung untuk mendapat giliran masuk. Terutama jika membawa sampah pada hari Selasa, dimana Rabu jadwal TPA libur dan Kamis masih mengantri sehingga, Jumat baru bisa masuk ke TPA. “Jadi sopir terpaksa bermalam,” katanya.
Dalam situasi tersebut tentu ia mengalami kerugian. Mulai dari tidak bisa mengisi sampah lagi hingga komplin masyarakat. Dia mengatakan, TPA buka dari jam 8 pagi hingga pukul 17.00 Wita.
Kepala UPTD TPA Suwung, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali Ni Made Armadi mengatakan, setiap Rabu memang ada penataan. Termasuk Rabu (14/1) ada perbaikan jalan. “Mudah-mudahan tidak hujan jadi bisa lancar. Kendala selama ini di hujan,” terangnya.
Jalan menuju TPA Suwung amblas karena hujan. Oleh karena itu perlu diperbaiki yang sekarang ada tambahan batu koral untuk memperkuat badan jalan. Demikian dikatakannya, Pada Kamis (15/1) TPA dibuka kembali dan pembuangan sudah bisa dilakukan.
Disinggung terkait perpanjangan penutupan TPA, dia mengatakan, sudah mendapatkan informasi namun belum ada surat yang turun. Demikian ada zona yang akan ditata dengan dilakukan pemadatan lagi untuk menampung sampah nantinya. (Widi Astuti/balipost)










