
DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali, Wayan Koster memberikan penjelasan terkait sejumlah kejadian banjir yang terjadi di beberapa wilayah di Bali. Menurutnya, banjir dipicu oleh curah hujan ekstrem yang disebutnya sebagai tertinggi dalam 70 tahun terakhir.
“Namanya hujan gede, ya banjir-banjir dikit. Tapi sebenarnya sudah dikelola dengan baik,” ujar Koster saat ditemui usai Rapat Paripurna DPRD Bali, Rabu (14/1).
Ia menjelaskan, berdasarkan data yang ada, curah hujan di Bali sejak tahun 2025 tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, bahkan tertinggi dalam kurun waktu 70 tahun terakhir. Hal ini terlihat dari peristiwa banjir yang sempat terjadi di kawasan Tukad Badung, Pasar Badung, hingga Pasar Kumbasari.
“Waktu itu curah hujannya mencapai 390 milimeter (mm). Padahal sebelumnya selalu di bawah 100 mm. Ini curah hujan tertinggi yang pernah tercatat dalam 70 tahun terakhir,” ungkapnya.
Koster menambahkan, fenomena tersebut dipengaruhi oleh siklus panjang alam, termasuk pergerakan gelombang siklon. Namun demikian, ia memastikan kondisi saat ini sudah mulai membaik. “Sekarang curah hujannya masih tinggi, tapi tidak setinggi sekitar September 2025. Sekarang banjirnya kecil-kecil,” katanya.
Terkait banjir yang terjadi di kawasan Pancasari, Buleleng, Koster memastikan tidak berdampak pada proyek pembangunan jalan shortcut di wilayah tersebut. “Oh tidak, tidak kena. Shortcut-nya aman. Warga yang terdampak sudah dievakuasi dan ditangani bersama oleh pemerintah provinsi dan Kabupaten Buleleng,” tegasnya.
Ia juga memastikan hingga saat ini belum ada laporan banjir yang mengganggu pembangunan shortcut tersebut. “Sejauh ini belum ada,” pungkas Koster. (Ketut Winata/balipost)









