Ray Cobra (tengah) bersama tim rescue Yayasan Reptil Asih Tabanan bersama ular hasil tangkapan. (BP/Bit)

TABANAN, BALIPOST.com – Di balik maraknya laporan kemunculan ular di permukiman warga belakangan ini, ada sosok relawan yang konsisten berjibaku dengan reptil liar demi keselamatan masyarakat. Ia adalah I Kadek Adi Saputra atau akrab disapa Ray Cobra (39), anggota tim rescue Yayasan Reptil Asih Tabanan, yang telah lebih dari satu dekade mendedikasikan diri sebagai penyelamat satwa, khususnya ular berbisa.

Dikenal publik sejak 2023 setelah beberapa aksinya viral di media sosial kawasan desa Antap Selemadeg Barat, Ray Cobra menjadi rujukan warga setiap kali menemukan king kobra atau ular lain memasuki ladang maupun pekarangan. “Banyak orang panik. Semakin panik, ular justru semakin agresif,” ujarnya, ditemui saat melakukan edukasi tentang karakter ular di stand HUT kota Singasana, Sabtu (29/11).

Lahir di Banjar Pasar, Desa Gumbrih, Pekutatan, Jembrana, kegemarannya pada reptil bukan datang tiba-tiba. Hobinya tumbuh sejak kecil karena pengaruh sang kakek yang dikenal sebagai pecinta binatang. “Kakek dulu sering memelihara berbagai hewan, termasuk ular,” kenangnya.

Baca juga:  Buleleng Uji Coba Vaksin Hexavalen, 100 Balita Disasar dalam Program Perdana

Selain juga karena kecintaannya pada alam membuatnya terbiasa memahami gerak dan karakter reptil. Ia mengaku perlu waktu lama untuk belajar karakter setiap jenis ular. “Sifat dasarnya sama, ular tidak akan mematuk kalau tidak diganggu,” katanya.

Ia pun mengaku pernah digigit, namun bukan oleh ular berbisa. Dedikasinya semakin kuat setelah kakaknya sesama rescue meninggal akibat kecelakaan kerja pada 2016 silam. “Kakak meninggal bukan karena ular, tetapi saat rescue tergelincir dan jatuh. Sejak itu saya serius belajar supaya kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.

Ray Cobra menyebut dari pengalamannya selama ini ia mengetahui setidaknya ada 47 spesies ular di Bali. Dari jumlah itu, hanya tujuh yang tergolong mematikan. Dan jenis spesies King kobra sejatinya memiliki sifat pemalu.

Baca juga:  Aktivitas Bongkar Muat di PPI Sangsit Masih Tutup

Ia mengingatkan bahwa perilaku ular berbeda antara liar dan peliharaan. Ular peliharaan cenderung mendekat karena terbiasa dengan manusia, sementara ular liar akan menghindar. “Semua ular takut manusia. Tidak ada ular yang mengejar,” tegasnya.

Selama bertugas, Ray Cobra kerap menangani kasus yang tidak umum. Pada 2019, ia dan timnya menangkap ular berkepala dua di Pura Prajapati, Desa Kukuh, Marga. Dan dalam satu bulan pada Oktober tahun lalu, timnya bahkan mengevakuasi hingga 19 sarang. “Sejatinya ular bukan musuh manusia. Kami hanya berusaha memastikan warga aman, dan ular juga selamat,” ucapnya.

Dari tiga tim rescue Yayasan Reptil Asih, salah satu temuan terbesar terjadi di Desa Biaung, Penebel. Seekor king kobra sepanjang 5,60 meter berhasil dievakuasi bersama 56 butir telur dalam satu sarang. “King kobra tidak akan muncul kalau masih di bawah satu meter panjangnya. Minimal dua meter baru berani keluar,” ungkapnya.

Baca juga:  King Kobra Marak Bersarang dan Bertelur saat Musim Hujan, 17 Ekor Ditangkap Sejak Juni

Menurutnya, tingginya laporan kemunculan ular di rumah warga umumnya terjadi saat musim penghujan. Ular mencari tempat hangat untuk menstabilkan suhu tubuh, termasuk rumah yang memiliki sarang tikus. Aktivitas warga di ladang dan hutan juga memicu perjumpaan karena habitat ular dibersihkan.

Perburuan liar turut memperparah kondisi ekosistem. Predator alami king kobra seperti biawak, sawang hujan, dan burung hantu makin berkurang. “Begitu rantai predator putus, populasi ular jadi tidak seimbang,” jelasnya.

Ray Cobra juga memberikan tips jika digigit ular berbisa, langkah pertama adalah imobilisasi atau menahan gerak bagian tubuh yang terkena gigitan. “Minimalkan pergerakan, bisa pakai kayu sebagai penahan, lalu segera ke rumah sakit,” pungkasnya (Puspawati/balipost)

 

 

 

 

 

 

BAGIKAN