Massa aksi ricuh di kawasan Renon, Denpasar pada Sabtu (30/8) petang. (BP/ken)

DENPASAR, BALIPOST.com – Massa aksi yang berada di kawasan Renon pada Sabtu (30/8) ricuh. Sejumlah orang melempari aparat kepolisian yang berjaga.

Sesuai pantauan di lapangan, aksi sudah berlangsung. Mereka melakukan pelemparan terhadap mobil polisi yang diparkir untuk menghalangi jalan masuk ke Kantor DPRD Bali. Bahkan ada tameng aparat kepolisian yang direbut oleh massa aksi.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP), Dewa Nyoman Rai Dharmadi yang ada di lokasi, meminta agar massa yang berada di wilayah Renon, Denpasar tidak bertindak anarkis. Sebab, tindakan anarkis akan berdampak negatif bagi Bali.

Baca juga:  Pantau Aktivitas Seismik, BMKG Pasang 20 Sensor di Sulawesi

“Di tempat lain sudah terjadi tindakan anarkis, tapi jangan di Bali. Jangan anarkis dan merusak fasilitas publik karena akan berdampak negatif bagi Bali sebagai destinasi pariwisata. Itu yang saya ingatkan,” katanya.

Dikatakannya demonstrasi yang digelar merupakan hak dalam menyampaikan aspirasi. “Demo tetap berjalan, situasi kondusif tetap dijaga,” tegasnya.

Sebelumnya, aksi demonstrasi di Mapolda Bali berakhir dengan kericuhan. Massa aksi yang dipukul mundur aparat kepolisian bergeser ke kawasan Renon. Diduga mereka akan melanjutkan aksinya di Kantor DPRD Bali.

Baca juga:  Dari Terminal Mengwi Dijaga Polisi dan TNI hingga Pengerjaan Jalan Kuta Bali Sibetan Capai 53 Persen

Dalam aksi yang digelar ini, massa yang tergabung dalam Aliansi Bali Tidak Diam menyampaikan 33 tuntutan. Sejumlah tuntutan itu, antara lain pembubaran DPR RI, pecat pimpinan Polri yang gagal dalam menyelamatkan massa aksi, bebaskan dan hentikan kriminalisasi terhadap tahanan politik termasuk para demonstran, kembalikan independensi KPK, dan usut tuntas insiden matinya Affan Kurniawan (21) karena dilindas kendaraan taktis (rantis) milik Brimob Polda Metro Jaya. (Kerta Negara/balipost)

Baca juga:  Ibukota Negara akan Dibangun Futuristik dan Ramah Lingkungan
BAGIKAN