Sejumlah warga melakukan demo di Concord, New Hampsire, Amerika Serikat untuk memprotes kebijakan penguncian wilayah di negara itu pada Sabtu (18/4). (BP/AFP)

CONCORD, BALIPOST.com – Ratusan orang turun ke jalan memprotes kebijakan lockdown yang dilakukan Amerika Serikat (AS). Protes ini, sedikit banyak didukung Presiden Donald Trump yang menyebutkan bahwa perekonomian terbesar di dunia itu mengalami kelumpuhan akibat karantina wilayah.

Dikutip dari AFP, setidaknya 400 orang berkumpul di tengah suasana hujan di Concord, New Hampshire. Banyak yang berjalan kaki, sementara lainnya berada di dalam mobil. Mereka menyatakan karantina tidak diperlukan di negara bagian yang jumlah kasus COVID-19 nya relatif sedikit.

Kelompok itu termasuk sejumlah orang bersenjata dengan menggunakan pakaian ala militer dan wajah ditutupi.

Di Texas, setidaknya 250 orang menggelar protes di ibukota negara bagian itu, Austin. Termasuk yang ikut dalam aksi ini adalah seorang pengamat konspirasi teori, Alex Jones, pendiri website Infowars.

“Ini saatnya membuka kembali Texas, ini saatnya warga kembali bekerja, ini saatnya bagi mereka bebas berinteraksi sesuai keinginan, bukan paksaan dari pemerintah,” kata Justin Greiss, seorang aktivis yang tergabung dalam Young Americans for Liberty.

Seorang ibu rumah tangga, Amira Abuzeid menambahkan dirinya bukan doktor tapi bisa melihat bahwa jumlah kasus yang ada tidak terlalu mengkhawatirkan.

Para demonstran di Annapolis, Maryland, tetap tinggal di dalam mobil sambil membawa pesan-pesan seperti “Kemiskinan juga membunuh.”

Dolores, seorang penata rambut, mengatakan dirinya tidak bisa dikategorikan sebagai pengangguran karena dia adalah seorang pemilik bisnis, bukan pekerja. “Saya harus menyelamatkan bisnis. Saya perlu bekerja untuk bisa hidup. Kalau tidak, saya akan mati,” katanya.

Baca juga:  Memandang Corona sebagai "Opportunity"

Sejumlah protes juga muncul di beberapa kota, seperti Columbus, Ohio, dan San Diego, California. Begitu juga negara bagian Indiana, Nevada, dan Wisconsin.

Protes bermunculan di negara-negara bagian yang pimpinannya merupakan anggota Partai Demokrat, dipicu cuitan Presiden Donald Trump yang mengatakan dirinya lebih memilih upaya cepat untuk kembali ke normal.

AS telah mengalami lebih banyak kematian akibat COVID-19 dibandingkan negara-negara lain di dunia dengan jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 734 ribu pasien dan 38.800 kasus kematian per Sabtu (18/4) malam waktu setempat.

Banyak warga AS berada dalam peraturan ketat penguncian wilayah yang melarang adanya pergerakan melibatkan banyak orang. Juga menutup semua bisnis, kecuali bisnis-bisnis yang sangat penting untuk kehidupan warga.

Pada intinya, keinginan para demonstran hanya satu yakni meminta agar penguncian wilayah di negara berpenduduk 1,3 miliar orang itu dihentikan, lebih awal dari jadwal yang ditetapkan pada 4 Mei. Terlebih, Presiden Trump dalam serangkaian cuitannya di Twitter berkeinginan “membebaskan” Michigan, Minnesota, dan Virginia, yang seluruhnya merupakan negara bagian dipimpin oleh anggota Partai Republik, dari kebijakan diam di rumah.

Namun, berdasarkan survei yang dilakukan hampir dua banding satu penduduk di AS khawatir jika upaya pembatasan untuk mencegah penyebaran virus ini dicabut terlalu cepat.

Trump berulangkali berkeinginan untuk kembali ke kondisi normal dalam waktu secepatnya karena penguncian wilayah telah menimbulkan dampak sangat buruk bagi para pekerja AS dan bisnis di negara itu. (Diah Dewi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.