Warga sedang menaiki scooter listrik di jalan raya di Nice, Prancis pada Sabtu (18/4). (BP/AFP)

WASHINGTON, BALIPOST.com – Wabah COVID-19 masih terus menelan korban jiwa. Dari data yang dikeluarkan AFP pada Sabtu (18/4), jumlah kematian di seluruh dunia sudah melampaui 150.000 kasus.

COVID-19 ini bahkan telah menelan korban jiwa sebesar 100.000 lebih di Eropa. Ini artinya dua pertiga jumlah kematian di dunia berada di benua itu.

Secara spesifik, jumlah kematian di Eropa tercatat sebanyak 100.501 orang dari 1.136.672 warga yang terinfeksi. Eropa merupakan benua yang terparah diterpa wabah COVID-19 ini yang secara total telah menyebabkan 157.163 orang meninggal.

Italia dan Spanyol merupakan dua negara yang terdampak paling parah. Italia mencatatkan kematian sebanyak 23.227 jiwa, sementara Spanyol yang memperpanjang masa penguncian wilayahnya hingga 9 Mei mengalami kematian sebanyak 20.043 jiwa.

Posisi ketiga di Benua Eropa adalah Prancis dengan jumlah kematian 19.323 orang, diikuti Inggris di posisi keempat dengan jumlah 15.464 orang.

Di seluruh dunia, setidaknya 2.281.334 orang dilaporkan positif terjangkit. Namun, diperkirakan jumlah yang dilaporkan di seluruh dunia ini baru sebagian jumlah kasus infeksi COVID-19 sebab sejumlah negara hanya mengetes orang yang memerlukan perawatan di RS.

Baca juga:  Ramai di Medsos, Iklan Villa dengan Pantai Pribadi

Meski Eropa mencatatkan jumlah kematian sebesar dua pertiga kematian di seluruh dunia akibat COVID-19 ini, sejumlah negara di benua ini juga sudah mulai bersiap membuka kembali perekonomiannya.

Swiss, Denmark, dan Finlandia berencana membuka kembali toko-toko dan sekolah pada minggu ini.

Menteri Kesehatan Jerman, pada Jumat (17/4), mengatakan virus saat ini sudah bisa dikontrol setelah negara itu mencatatkan kematian sebanyak 3.400 orang. Kini, negara itu memulai upaya untuk melonggarkan larangan-larangan tanpa memunculkan gelombang kedua dari wabah ini.

Sejumlah toko akan diizinkan buka kembali pada Senin (20/4) dan anak-anak akan kembali ke sekolah dalam beberapa minggu ke depan.

Sebagian Italia juga sudah mulai melonggarkan kebijakan penguncian. Salah satunya bisa dilihat di Venice, warga telah mulai berjalan-jalan di sekitar kanal.

Namun Spanyol, dengan jumlah kematian melampaui 20.000 kasus telah mempertahankan kebijakan ketat penguncian. Sedangkan Jepang, Inggris, dan Meksiko telah meningkatkan upaya penguncian mereka. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.