Salah satu fast boat saat merapat di Pelabuhan Rakyat Jungut Batu, ketika masih ramai dikunjungi wisman. (BP/dok)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Bendesa Adat Jungut Batu, Nusa Penida, Ketut Gunaksa, Minggu (29/3), mengatakan, wabah COVID-19 membawa dampak terburuk dalam sejarah Desa Jungut Batu. Lumpuhnya pariwisata membuat warga lokal Jungut Batu tak dapat berbuat apa-apa.

Ekonomi warga nyaris lumpuh, ditambah akses ke pulau ini yang kian dibatasi, menyusul imbauan agar menutup akses bagi wisatawan. Bahkan, banyak jasa fastboat juga sudah menutup sementara rute ke Jungut Batu, baik dari Kusamba maupun akses dari Sanur.

Perekonomian desa setempat saat ini anjlok. Akomodasi pariwisata sudah nyaris semua tutup, tak terkecuali beach club ternama sejak tiga bulan lalu. “Jungut Batu ini paling “babak belur.” Sangat sepi. Ini kondisi terburuk dalam sejarah. Ketika Bom Bali I maupun II, dampaknya tidak seburuk ini. Anjloknya perekonomian, ini paling terasa,” terang Gunaksa.

Di tengah situasi yang terus memburuk ini, juga muncul wacana untuk mengisolasi pulau dari akses luar. Ini untuk mencegah lebih ketat penyebaran COVID-19 ke wilayah kepulauan. Disinggung soal itu, dia melihat ini dalam situasi sulit atau dilematis. Kalau memang itu sebuah situasi yang mendesak, tentu masyarakat tak bisa menolak. Tetapi, kalau langkah itu diambil, maka tentu harus dipikirkan bagaimana mengatasi akses kebutuhan pokok yang mengandalkan dari luar.

Baca juga:  Pascatemuan Puluhan Pedagang Hasil Rapidnya Reaktif, Pasar Bojonegoro Ditutup

Gunaksa menambahkan, warga juga mulai kesulitan memenuhi kebutuhan sembako. Hanya beberapa warung kecil saja yang tetap buka. Itupun hanya menyediakan barang stok sehingga warga belakangan semakin kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Terlebih, transportasi fastboat sudah jauh berkurang. “Saat ini, syukur masih ada beberapa boat yang masih operasional untuk memasok sembako,” katanya.

Dia berharap situasi ini cepat membaik. Kalau terus situasinya seperti ini, akan semakin berdampak buruk bagi Jungut Batu. Karena sebagai daerah kepulauan, tentu segala ruang geraknya terbatas untuk memenuhi kebutuhan pokok. Dia sekaligus menyampaikan bahwa Jungut Batu jangan hanya diingat saat pariwisatanya maju. Tetapi ketika dalam situasi begini Jungut Batu pun tetap harus menjadi prioritas dalam upaya pencegahan.

Saat ini, warga sekitar sangat patuh mengikuti imbauan pemerintah. Tidak ada yang berani menganggap COVID-19 ini masalah sepele. “Segala kegiatan yadnya sementara ditunda. Tidak juga pakai gong, pesantian, dan tidak mengerahkan krama,” tegasnya. (Bagiarta/balipost)