Pekerjaan
Ilustrasi. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Undiksha Dr. I Nengah Suarmanayasa, S.E.,M.Si., mengatakan, kondisi Bali saat pandemi COVID-19 mirip saat bom Bali tahun 2002. Kunjungan wisatawan akan anjlok yang nantinya mengakibatkan kesejahteraan masyarakat turun.

Namun menurutnya, kejadian ini bisa dijadikan momentum untuk mewujudkan Bali Era baru dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Menurut Suarmanayasa, untuk memastikan masyarakat Bali bisa survive menghadapi kondisi seperti saat ini, diperlukan langkah-langkah riil baik yang bersifat korektif maupun preventif.

Sikap jangka pendek atau langkah korektif yaitu mendukung kebijakan OJK agar dunia perbankan memberikan keringanan kepada pelaku UKM dalam hal kewajiban dengan perbankan. Kebijakan ini agar benar-benar dilaksanakan, jangan sampai di tingkat atas ada kebijakan tersebut, tetapi pelaksanaan di bawah berbeda. “Harus ada langkah bersama dalam menyelamatkan pelaku UKM. Mengingat UKM adalah salah satu penyelamat ekonomi Bali,” tegasnya, Kamis (19/3).

Selain itu, kebijakan yang diberlakukan OJK kepada dunia perbankan juga bisa diberlakukan pada koperasi simpan pinjam dan nasabah LPD. Mengingat pelaku UKM banyak yang memanfaatkan jasa lembaga keuangan ini dalam menjalankan usahanya. “Sekali lagi, harapannya pelaku usaha mendapat keringanan sehingga bisa bertahan dalam kondisi ini,” tegasnya.

Baca juga:  Jangan Anggap Remeh COVID-19, Tingkatkan Kewaspadaan!

Sementara itu, sikap jangka panjang (langkah preventif) yaitu saatnya generasi muda yang sarjana untuk pulang kampung membangun desa. Caranya, dengan menjadi pengusaha di sektor pertanian.

Misalnya mennjadi pengusaha di bidang peternakan, menjadi pengurus BUMDes dan menjadi pengurus LPD. “Dalam kondisi seperti saat ini saya mengajak anak muda untuk menerapkan konsep one person one product, one village one product dan one village one corporation. Mari jadikan desa sebagai tempat dalam meraih kesejahteraan,” ujarnya.

Apalagi, dikatakan bahwa sejatinya desa memiliki potensi yang luar biasa. Hanya saja selama ini desa belum dijadikan pilihan utama oleh anak muda dalam berkarier.

Gengsi masih menjadi alasan utama anak muda, sehingga memilih berkarier di kota. “Dalam kondisi seperti ini, gengsi harus dihilangkan. Tidak mudah, tetapi tidak ada pilihan lain. Jika masih gengsi maka anak muda akan layu sebelum berkembang,” imbuhnya. (Winatha/balipost)