Tim mitigasi penanggulangan penyakit babi mengecek lokasi kuburan babi untuk penguburan secara massal. (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Kasus babi mati mendadak masih terjadi di Badung. Kondisi ini menyebabkan Pemkab Badung mengambil langkah antisipasi untuk meringankan beban peternak.

Pemerintah, kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Badung, dr. I Gede Putra Suteja, menyiapkan sejumlah lokasi untuk mengubur bangkai babi dalam jumlah yang besar.

Lahan yang merupakan aset daerah ini, kata Ketua Tim Mitigasi Penanggulangan Penyakit Babi, Kamis (19/3), berlokasi di Kecamatan Abiansemal dan Mengwi. Mengingat dua kecamatan ini, jumlah peternak babinya paling besar.

Sampai saat ini, kasus kematian babi masih terjadi secara sporadis. Pihaknya sudah melakukan antisipasi dengan menyiapkan lokasi penguburan yang lokasinya cukup strategis dan aman bagi masyarakat.

Namun sampai saat ini diakuinya belum ada permintaan bantuan penguburan babi oleh masyarakat karena kemungkinan masih dapat diatasi sendiri oleh peternak dan pihak desa/kelurahan. Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan penguburan babi dalam jumlah yang banyak, Putra Suteja mempersilahkan masyarakat untuk melaporkan kepada Perbekel/Lurah selanjutnya pihak Kecamatan akan menyampaikan laporan kepada Tim Mitigasi untuk dilakukan tindakan secara terpadu, atau masyarakat juga dapat melaporkan melalui call center 112 untuk dilanjutkan kepada Tim Mitigasi melalui WA grup yang sudah disiapkan.

Baca juga:  Seribuan Babi Mati Mendadak, Segini Kerugian yang Diderita Peternak

Namun khusus untuk jumlah kematian babi 1-2 ekor, masyarakat diminta untuk mengubur secara mandiri serta untuk memutus penyebaran virus, masyarakat diminta agar tidak membuang bangkai babi secara sembarangan.

Hal senada juga dikatakan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kab. Badung I Wayan Wijana bahwa pihaknya bersama Tim Mitigasi sudah melakukan peninjauan ke lokasi tanah yang dipersiapkan sebagai tempat penguburan bangkai babi. Luasnya kurang lebih 50 are dan lokasinya jauh dari permukiman penduduk.

Pihaknya serius mempersiapkan hal ini karena sampai saat ini belum ada vaksin atau obat untuk mengatasi penyakit babi ini. Laporan kematian babi dari masyarakat masih ada walaupun jumlahnya sudah semakin menurun. “Jumlah populasi babi di Badung berdasarkan Sensus Ternak tahun 2019 cukup besar yakni 69.626 ekor sedangkan angka kematian akibat penyakit babi hingga saat ini tercatat sekitar 1.100 ekor, sehingga perlu ada langkah antisipasi dan penanganan,” katanya. (Parwata/balipost)