Ketua BUMDes Dwi Amertha Sari Jineng Dalem, Gede Hendri Ari Susila. (BP/Istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Desa Jineng Dalem, Kecamatan Buleleng terkenal dengan kerajinan Tenun Songket. Hanya saja, belakangan salah satu sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mengalami permasalahan pelik, yaitu perajinnya sendiri kesulitan mengakses kredit untuk modal usaha.

Tidak ingin permasalahan pelik itu semakin “menggurita”, mulai 2015 pemerintahan desa setempat membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kehadiran BUMDes “Dwi Amerta Sari” itu membantu perajin untuk mengakses modal.

Sejalan dengan perkembangannya, sekarang BUMDes ini juga menawarkan kreditnya untuk membantu para pelaku UKM lain, seperti usaha toko kelontong dan home industry. Selain itu, satu unit usaha yang sedang dikelola adalah air bersih.

Dengan beragam unit usaha itu, sekarang BUMDes ini telah memiliki aset keseluruhan Rp 1,9 miliar. Ketua BUMDes Dwi Amertha Sari Jineng Dalem, Gede Hendri Ari Susila, Rabu (18/3) mengatakan, salah satu ide mengelola jasa penyiapan kredit modal untuk UKM khusus tenun songket, karena kekahwatiran warisan leluhur itu punah disebabkan sulitnya akses modal.

Dari komitmen bersam pengurus dan dukungan komponen di desa, pihaknya fokus mmenggolontorkan kredit untuk para penenun dan pelaku UKM lain. Dari data yang ada, saat ini debitur yang memakai jasa kredit BUMDes ini sebanyak 270 orang.

Baca juga:  75 Persen Perusahaan di Buleleng Bayar Sesuai UMK

Total kredit yang sudah diserap Rp 800 juta. Sejak melayani kredit dengan suku bunga bersaing itu, para penenun atau pelaku UKM lain mampu mengelola usaha dengan baik. “Dulu penenun ini nyari modal ke pengepul dan kalau barang jadi dipotong modal ini sangat menyulitkan, sehingga komitmen bersama kami melayani kredit untuk tukang tenun. Sekarang sudah dirasakan manfaatnya dan kerajinan peninggalan leluhur ini tetap ada di desa kami,” jelasnya.

Selain itu, sekarang BUMDes menjadi pengelola air bersih. Dengan tambahan unit usaha itu, Gede Hendri menyebut sektor itu cukup potensial untuk dikembangkan.

Untuk tahap awal, dari unit air bersih desa itu, dirinya mengakui masih cukup untuk biaya operasional dan pemeliharaan jaringan air bersih. Namun demikian, ke depan pengolaan air bersih ini akan menjadi sektor usaha yang menguntungkan. “Untuk air bersih memang hanya cukup untuk menutup biaya operasional kami. Namun ke depan ini akan optimalkan lagi dan sekarang kesadaran membayar air sudah semakin meningkat, sehingga ke depan ini akan memberi keuntungan untuk desa kami,” jelasnya. (Mudiarta/balipost)