Warga mencoba air bersih yang kini bisa memenuhi kebutuhan di Desa Sekartaji. (BP/gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Selama ini kepulauan Nusa Penida bergantung pada dua mata air utama, yakni Mata Air Penida dan Guyangan. Meski berkapasitas besar, tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan air bersih seluruh Nusa Penida.

Contohnya, seperti Desa Sekartaji. Namun, kini, Desa Sekartaji, akhirnya memiliki mata air sendiri di Dusun Tabuanan.

Mata air yang selama ini berada di bawah tebing itu, dinaikkan dengan sistem pompa, sehingga bisa mengalir ke atas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Desa Sekartaji.

Anggota DPRD Klungkung Wayan Suarta, Selasa (10/3) mengatakan mata air ini sesungguhnya sudah lama ada di bawah tebing itu. Tetapi, upaya untuk menaikkannya selalu gagal. Masyarakat desa setempat terus berupaya keras untuk mengangkat mata air tersebut, agar bisa dimanfaatkan. Terlebih, air Guyangan yang diharapkan bisa segera sampai ke Sekartaji, baru sebatas jaringan pipanya saja. Tetapi airnya tak kunjung sampai mengalir.

“Namanya Mata Air Hughug. Dinamai begitu karena dulu mata air ini sudah lama rusak. Sekarang sudah bisa naik ke Desa Sekartaji yang kekuatannya bisa menyamai Mata Air Guyangan,” kata Suarta, politisi Partai Gerindra ini.

Mata air ini diangkat dengan sistem pompa, berkat kerjasama dengan Pamsimas (Penyedia Air Minum dan Sanitasi Masyarakat). Pamsimas ini sebagai strategi pusat dalam mewadahi dan mengkolaborasikan program-program air minum dan sanitasi perdesaan berbasis masyarakat. Kolaborasi itu dari berbagai sumber pendanaan tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan desa untuk pencapaian akses 100 persen.

Baca juga:  Puluhan KK di Pesinggahan Tak Tersentuh Layanan Air Bersih

“Selama ini desa kami langganan kekeringan. Biar di daerah lain sudah hujan, tetapi Sekartaji masih kekeringan. Hingga harus beli air mahal-mahal ke Desa Batukandik. Ini yang membuat kami begitu antusias untuk memenuhi kebutuhan air bersih ini,” tegas mantan Perbekel Sekartaji ini.

Total warga di desa itu ada sebanyak 320 KK atau 2.709 orang. Mereka terbagi ke dalam enam dusun. Antara lain, Dusun Dlundungan, Bungkil, Tabuanan, Sekartaji, Ramuan dan Sedehing.

Suarta berharap sumber mata air ini bisa memenuhi kebutuhan air warga Sekartaji secara bertahap. Selain Sekartaji, dua desa lainnya Desa Tanglad terdiri dari Dusun Anta, Tanglad dan Watas serta Desa Pejukutan, yang terdiri dari Dusun Pelilit, Ambengan, Pejukutan, Ampel dan Karang, juga kerap mengalami kekeringan. Dia berharap dua desa ini juga ke depan bisa terbebas dari kekeringan. (Bagiarta/balipost)