10 SMP Gelar UNBK
Siswa saat mengikuti simulasi UNBK. (BP/dok)

Oleh : Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum.

Cerita, kisah dramatis haru biru, yang sudah berlangsung sejak lama di seputar ujian akhir sekolah akan dikubur tahun ini oleh Pak Menteri Nadiem Makarim. Ujian ibarat monster hitam yang membayangi semua pihak, dari gubernur, kepala dinas, bupati, pengawas, kepala sekolah, guru, dan tentu saja siswa dan orangtuanya.

Ketakutan yang ditimbulkan dari gerakan monsterisasi UN itu terus dibangun dan diwariskan dari tahun ke tahun, sehingga semakin menjadi-jadi. Pun tak bisa dimungkiri ujian kognitif hafalan menjelma menjadi tujuan satu-satunya, target, ukuran keberhasilan, status prestasi, prestise sosial bagi siswa penghafal teori, teorema, dalil, peta buta, tahun dan nama sejarah, ukuran lapangan bola, dan lain-lain, dari keseluruhan proses pendidikan.

Tahun-tahun keenam bagi siswa SD dan ketiga bagi siswa SMP dan SMA/SMK adalah puncak persiapan menghadapi ujian. Seluruh kekuatan sekolah dikerahkan. Uji coba (try out) menjawab tes pilihan ganda berkali-kali terjadi. Semua kegiatan belajar seperti membuat proyek botani di herbarium sekolah, pembedahan katak di laboratorium biologi, atau menyusun esai, diabaikan.

Sekolah tak mau tinggal diam, bahkan mengembangkan strategi suskes UN dengan cara curang. Anak-anak pintar yang dikumpulkan di kelas unggul dapat kehormatan jadi joki nan perkasa UN yang akan disebar di seluruh kelas peserta. Para joki ini memberi tahu jawaban kepada seluruh siswa di suatu kelas. Para pengawas sepakat untuk tidak mengusik keadaan ini walaupun mereka datang dari sekolah lain. Mereka tutup mata tutup telinga.

Guru-guru bahkan ikut menyebarkan kunci jawaban atau membuka segel pada amplop LJK lalu mengubah jawaban siswa yang salah. Hal ini berlangsung cepat, sementara aparat keamanan berjaga-jaga di serambi depan. Amplop disegel ulang, dikirim ke kota kecamatan atau kabupaten dikawal polisi diiringi sayup sirene sepanjang jalan. Seolah semua proses UN berjalan jujur atau murni. Tetapi itu semua drama, bro!

Drama UN benar-benar akan tutup layar. Guru-guru sekolah nanti memberi penilaian siswa mereka. Setelah enam atau tiga tahun diasuh guru akan merefleksi peningkatan atau perkembangan mereka. Semua guru memiliki setumpuk catatan tentang kedalaman atau keluasan pengetahaun, wawasan siswa.

Bagaimana sikap mereka kini dan nilai-nilai yang terinternalisasi pada diri mereka. Perubahan apa yang terjadi. Pencapaian atau prestasi apa yang diraih seorang siswa. Inilah yang bicara dalam rapat kelulusan. Kelulusan siswa adalah sebuah keputusan bersama di ruang sidang sekolah. Mereka tahu dan puas, apa pun keputusan itu.

Baca juga:  Lala Studio Gelar Uji Kompetensi Senam

Mereka semua dapat mempertanggungjawabkan karena setiap guru memiliki catatan tentang siswa mereka, baik kognitif, sikap, dan praktik. Setiap guru mengenal siswanya. Penilaian ini humanisasi, memadukan tiga ranah. Berbeda dengan penilaian dengan tes dalam UN, siswa bertransformasi menjadi selembar LJK. UN dengan demikian adalah penilaian yang dehumanis.

Negara sudah membuka peluang untuk menyudahi drama kecemasan, praktik curang, mengembalikan kepada hakikat penilaian yang tidak lagi berdasar hafalan. Kini tinggal guru yang bergerak merdeka dari kecemasan dan kecurangan UN.

Mengenali siswa dari indikator-indikator tiga ranah, seperti kognitif, apektif, dan psikomotor, sesungguhnya sangat mudah. Hampir setiap guru memiliki pandangan yang sama terhadap kecerdasan kognitif siswa karena siswa bersangkutan unggul di setiap mata pelajaran. Membicarakan siswa secara informal di ruang guru, adalah praktik penilaian. Bisa dikatakan sebagai embrio penilaian yang dilakukan oleh guru sendiri.

Kegiatan penilaian pengganti UN yang dilakukan di sekolah lebih adil, terbuka, dan dapat memuaskan semua pihak. Guru-guru tahu keputusan bersama yang diambil di ruang sidang. Semua guru mengajukan pendapat untuk mendukung keputusan.

Guru-guru juga dapat mempertanyakan lebih lanjut sebuah penilaian dari rekan guru lainnya. Dengan mekanisme ini, penilaian dapat memberi rasa puas kepada semua pihak. Jadi tidak ada lagi saling menyalahkan jika hasil yang dicapai di bawah standar. Justifikasi penilaian semacam ini juga sangat kuat.

Esai ini tidak menyinggung kelemahan atau hambatan penilaian kelulusan siswa versi sekolah karena semua metode evaluasi memiliki kelemahan. Yang penting mau berubah! Yang penting mecoba ikhtiar baik dan mengutip penglaman Biksu Ajahn Brahm ketika membangun biara. Ada dua bata merah yang salah pasang namun ada ribuan bata yang sempurna. Mengapa banyak orang yang mengunjungi biaranya lebih tertarik membicarakan dua bata itu, padahal ada ribuan bata yang sempurna?

Penulis, dosen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja